Kenali Alergi Makanan Dan Cara Mengatasinya Dengan Tepat

Alergi makanan bisa dialami oleh siapa saja. Reaksi alergi ini terjadi karena sistem kekebalan tubuh keliru dalam merespon protein yang berasal dari makanan. Sistem kekebalan tubuh menganggap protein tersebut sebagai ancaman dan menimbulkan reaksi tertentu misalnya ruam atau gatal pada kulit. Bayi dan anak-anak adalah kelompok yang paling rentan dan paling sering terkena alergi makanan dikarenakan sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna.

Jenis Alergi Makanan

Alergi makanan terdiri dari beberapa jenis yaitu

  • Immunoglobin E
  • Non-immunoglobin E
  • Gabungan keduanya

Immunoglobin E sendiri merupakan salah satu zat antibodi dalam sistem imun atau kekebalan tubuh. Alergi makanan jenis ini adalah yang paling umum dialami. Reaksi yang ditunjukkan oleh penderita alergi immunoglobin E akan segera terlihat sesaat setelah makanan pemicu alergi dikonsumsi.

Alergi non-immunoglobin merupakan jenis alergi yang dipicu oleh zat-zat antibodi lain selain immunoglobin E. Berbeda dengan alergi immunoglobin E, reaksi pada alergi non-immunoglobin E lebih lambat.

Selanjutnya adalah alergi gabungan dari immunoglobin E dan non-immunoglobin E, dimana reaksi dan gejala dari kedua jenis alergi tersebut akan terlihat.

Gejala Yang Timbul Pada  Alergi Makanan

Gejala alergi makanan akan terlihat sesuai dengan jenis alergi yang diderita. Untuk jenis alergi yang dipicu karena zat immunoglobin E maka gejala yang biasanya dialami penderita adalah sebagai berikut :

  • Gatal dan ruam dengan tekstur yang timbul pada permukaan kulit.
  • Rongga mulut terasa gatal disertai dengan sensasi kesemutan.
  • Kesulitan menelan.
  • Terjadi pembengkakan pada mulut, wajah, dan bagian tubuh lainnya.
  • Mual dan muntah.
  • Terasa gatal diarea mata.
  • Sakit kepala atau pusing.
  • Bersin terus menerus.
  • Sakit perut.
  • Sesak napas.
  • Diare.

Untuk kasus alergi makanan non-immunoglobin E, gejala yang timbul meliputi :

  • Gatal dan ruam namun tidak bertekstur timbul pada permukaan kulit.
  • Sebagian ada yang mengalami eksim atopik dimana kondisi kulit kering dan pecah-pecah disertai dengan warna kemerahan dan rasa gatal.

Reaksi atau gejala yang ditimbulkan oleh jenis alergi non-immunoglobin E terkadang mirip dengan jenis alergi immunoglobin E. Bahkan juga bisa memunculkan gejala lainnya sehingga tekadang sulit dideteksi dan dibedakan. Gejala-gejala itu antara lain :

  • Gangguan pencernaan seperti sembelit.
  • Nyeri pada ulu hati.
  • Terdapat warna kemerahan disekitar kelamin dan anus.
  • Meningkatnya frekuensi BAB (buang air besar).
  • Kulit berubah menjadi pucat.
  • Jika alergi terjadi pada bayi maka biasanya ia menjadi lebih rewel dari biasanya.

Apa Bahayanya Jika Mengalami Alergi Makanan

Alergi makanan seringkali dianggap sepele. Namun sebaiknya anda tidak menyepelekan kondisi ini karena pada beberapa kasus tertentu, alergi tersebut bisa memicu pada kondisi lainnya yang lebih serius seperti anafilaksis.

Anafilaksis merupakan reaksi alergi parah yang ditandai dengan gejala awal yang mirip dengan gejala alergi makanan biasa. Bedanya, reaksi yang ditimbulkan jauh lebih cepat dari alergi makanan biasa. Bahkan kondisi bisa terus memburuk sampai penderita mengalami detak jantung yang cepat, sulit untuk bernafas, menrunnya tekanan darah secara drastis, bahkan sampai pingsan. Kondisi terburuk dari anafilaksis adalah kematian sehingga saat terjadi gejala seperti ini harus segera mendapat penanganan dari dokter.

Penyebab Alergi Makanan

Alergi makanan dipicu oleh beberapa jenis makanan. Pada dasarnya setiap makanan bisa menyebabkan alergi karena setiap manusia memiliki respon yang berbeda terhadap makanan. Meski begitu, ada beberapa jenis makanan tertentu yang sering menjadi pemicu alergi seperti:

  • Makanan laut seperti udang, lobster, kepiting, dan ikan
  • Kacang-kacangan seperti kacang tanah
  • Susu
  • Telur
  • Kedelai (termasuk susu kedelai dan olahannya, seperti tahu dan tempe)

Bayi sangat rentan terkena alergi susu. Gejala yang ditimbulkan biasanya merupakan gabungan dari alergi immunoglobin E dan non-immunoglobin E, seperti sembelit dan pembengkakan dibeberapa area tubuh. Setiap orang yang memiliki alergi makanan tidak selalu memiliki pemicu yang sama. Bisa saja seseorang alergi terhadap susu hanya menunjukkan reaksi alergi pada produk olahan susu sapi dan tidak alergi pada olahan susu kedelai.

Diagnosis Alergi Makanan Yang Tepat

Diagnosis hanya bisa dilakukan oleh dokter. Berikut langkah-langkah yang biasanya dilakukan untuk mencari tahu penyebab alergi makanan :

  • Dokter akan menanyakan seputar riwayat kesehatan penderita serta gejala yang timbul.
  • Rentang waktu terjadinya reaksi alergi serta tingkat keparahannya juga penting untuk diketahui untuk menentukan diagnosis yang tepat.
  • Riwayat alergi keluarga juga akan ditanyakan baik itu alergi makanan atau bukan.
  • Pemeriksaan lanjutan yang pertama dilakukan adalah tes darah untuk mencari tahu kadar antibodi dalam darah.
  • Tes tusuk kulit juga biasa dilakukan untuk menegakkan diagnosis. Zat alergen dari ekstrak suatu makanan akan ditaruh pada kulit yang kemudian akan ditusuk-tusukan dengan jarum kecil agar meresap kedalam sel kulit.
  • Pemeriksaan lanjutan berikutnya adalah tes eliminasi makanan dimana dokter akan mengharuskan anda untuk menghindari makanan tertentu yang dicurigai sebagai pemicu alergi selama kurang lebih satu bulan lamanya sebelum anda diperbolehkan untuk mengonsumsinya kembali. Jika alergi muncul setelah makanan tersebut dikonsumsi kembali maka anda positif alergi terhadap makanan tersebut.

Perlu diketahui bahwa tes darah serta tes tusuk kulit biasanya dilakukan dokter jika pasien diduga menderita alergi makanan jenis immunoglobin E, karena alergi jenis ini menimbulkan reaksi yang cepat. Sedangkan untuk alergi makanan non-immunoglbin E biasanya dokter akan menggunakan tes eliminasi makanan karena jenis alergi ini menunjukkan reaksi yang lebih lambat. Itulah mengapa diagnosis dilakukan sesuai dengan sifat alergi makanan.

Faktor Yang Meningkatkan Risiko Alergi Makanan

Faktor yang dapat memicu peningkatan risiko alergi makanan adalah sebagai berikut :

  • Menderita alergi lain alergi makanan.
  • Memiliki riwayat keluarga yang juga menderita alergi apapun jenisnya.
  • Usia meningkatkan risiko alergi makanan. Itulah mengapa bayi dan anak-anak lebih rentan terhadap alergi makanan.

Mengatasi Alergi Makanan Dengan Cara Yang Tepat

Alergi makanan bisa hilang sendirinya ketika dewasa. Namun pada beberapa kasus alergi makanan yang dialami saat usia anak-anak bisa muncul kembali saat dewasa.

Pengobatan tidak bisa menyembuhkan alergi makanan. Obat hanya berfungsi untuk meredakan reaksi alergi yang muncul. Obat-obatan yang biasa diresepkan dokter adalah jenis antihistamin untuk meredakan reaksi alergi ringan. Selain itu, obat yang mengandung adrenalin juga biasanya diberikan dokter namun obat ini lebih untuk mengatasi reaksi alergi yang cenderung parah.

Beberapa obat alergi golongan antihistamin misalnya cetirizine (merk Incidal OD, Rinocet Drops dan lain-lain), chlorpheniramine maleate/chlorphenamine/chlortrimeton/CTM, Siproheptadin (merk Pronicy, ProhysLexahist dan lain-lain), dan antihistamin lainnya.

Selain antihistamin, obat-obat golongan kortikosteroid juga bisa digunakan sebagai obat alergi. beberapa jenis anti alergi golongan kortikosteroid misalnya Dexamethasone (merk Molacort, Lanadexon, Grathazon), dan Betamethasone.

Mengetahui makanan pemicu alergi adalah cara terbaik untuk mengatasi alergi makanan. menghindari makanan pemicu alergi bisa dilakukan untuk menghindari reaksi alergi. Anda dianjurkan untuk segera menemui dokter ketika mengalami reaksi alergi tak lama setelah mengkonsumsi makanan tertentu yang dicurigai sebagai pemicu. Memeriksakan diri ke dokter akan mencegah gejala yang lebih parah seperti anafilaksis yang berbahaya karena beresiko terhadap kematian.