Benazepril

Benazepril adalah obat yang digunakan untuk mengobati hipertensi (tekanan darah tinggi), dan beberapa jenis gagal jantung kronis. Benazepril juga digunakan untuk mencegah komplikasi pada ginjal dan retina mata akibat penyakit diabetes. Obat ini adalah obat anti hipertensi yang termasuk angiotensin converting enzyme (ACE) inhibitor.

Benazepril adalah prodrug yang terhidrolisis di dalam hati menjadi metabolit aktifnya, yaitu Benazeprilat. Benazeprilat secara kompetitif mengikat enzim ACE membentuk kompleks enzim-inhibitor yang kemudian mengalami isomerisasi. Penghambatan kinerja enzim ACE mencegah konversi angiotensin I menjadi angiotensin II, suatu zat vasokonstriktor endogen. Penghambatan ini menyebabkan kadar angiotensin II menurun. Penurunan angiotensin II mengakibatkan peningkatan aktivitas renin plasma dan mengurangi sekresi aldosteron (hormon yang menyebabkan retensi air dan Natrium). Penghambatan kerja enzim ACE juga menyebabkan peningkatan kadar bradikinin. Hal ini menyebabkan terjadinya vasodilatasi dan penurunan tekanan darah.

Golongan


Harus dengan resep dokter

Kemasan


Obat ini biasanya tersedia berupa Benazepril HCl 5 mg, 10 mg, 20 mg dan 40 mg.

Indikasi


Berikut ini adalah beberapa kegunaan Benazepril :

  • Benazepril digunakan untuk menurunkan tekanan darah (hipertensi) baik secara tunggal atau dalam kombinasi dengan anti hipertensi lain terutama diuretik golongan tiazid.
  • Untuk pengobatan gagal jantung kongestif. Pengobatan ini mampu mengurangi gejala, meningkatkan daya tahan pasien saat beraktivitas atau berolah raga, mengurangi insiden kekambuhan dan menurunkan frekuensi rawat inap bahkan menurunkan tingkat kematian.
  • Mengobati pasien pasca infark miokard akut yang memiliki tanda-tanda klinis gagal jantung kongestif.
  • Pencegahan (profilaksis) serangan penyakit kardiovaskular seperti infark miokard dan stroke.

Kontra indikasi


  • Jangan menggunakan obat ini pada pasien yang memiliki riwayat hipersensitif terhadap Benazepril atau obat-obat yang termasuk ACE inhibitor lain.
  • Jangan menggunakan Benazepril jika Anda sedang hamil atau berencana untuk hamil karena obat ini bisa membahayakan bayi yang belum lahir. Segera hentikan penggunaan obat ini jika Anda sedang hamil.
  • Pengobatan dengan Benazepril tidak boleh dilakukan terhadap orang-orang yang memiliki riwayat angioedema (herediter atau idiopatik) atau pernah mengalami angioedema saat menggunakan obat-obat golongan inhibitor ACE.
  • Jangan menggunakan aliskiren dan Benazepril secara bersamaan pada pasien dengan diabetes melitus.

Efek Samping Benazepril


Efek samping Benazepril yang mungkin terjadi adalah sebagai berikut :

  • Efek samping yang paling umum adalah peningkatan serum kreatinin, pusing, dan sinkop.
  • Batuk juga sering terjadi karena peningkatan kadar bradikinin. Batuk akan segera hilang jika pengobatan dihentikan.
  • Efek samping lainnya adalah kemungkinan terjadinya hipotensi (tekanan darah rendah) dan gagal ginjal akut. Hentikan pemakaian obat ini bila tekanan darah sistolik turun menjadi < 90 mm Hg, atau kalium meningkat > 6 mmol/l, atau kreatinin meningkat 50% atau > 3 mg/dl.
  • Obat ini juga bisa menyebabkan hiperkalemia yang terjadi terjadi karena penurunan kadar aldosteron,  hormon steroid yang berfungsi menahan natrium dan mengekskresi kalium.
  • Efek samping yang jarang tetapi sangat berbahaya akibat pemakaian obat yang mengandung Benazepril adalah angioneurotik edema, yang biasanya timbul pada bulan pertama pemakaian.
  • Obat-obat ACE inhibitors diketahui bersifat teratogenik sehingga tidak boleh diberikan pada wanita hamil.
  • Efek samping lainnya adalah :  Sakit kepala, kelelahan, nyeri perut dan dada, pusing, mual, muntah, diare, infeksi saluran pernafasan atas, asthenia, dan ruam.

Perhatian


Hal-hal yang harus diperhatikan pasien saat menggunakan Benazepril adalah sebagai berikut :

  • Segera hentikan pemakaian obat jika anda positif hamil, karena obat-obat yang termasuk ACE inhibitor dapat menyebabkan cedera dan kematian pada janin.
  • Obat ini disekresi dalam ASI dan tidak direkomendasikan untuk digunakan saat menyusui.
  • Keamanan dan efektivitas obat ini pada pasien anak belum ditetapkan. Penggunaan pada anak-anak bisa dilakukan jika pengendalian tekanan darah dengan cara lain tidak efektif.
  • Benazepril hanya digunakan dalam pengawasan dokter, terutama pada permulaan terapi untuk antisipasi terjadinya penurunan tekanan darah yang drastis. Penurunan tekanan darah secara drastis bisa menyebabkan pusing, sakit kepala dan penurunan kewaspadaan. Jangan mengemudi dan mengoperasikan mesin yang membutuhakn kewaspadaan tinggi.
  • Jika mengalami tanda-tanda atau gejala angioedema seperti : pembengkakan wajah, mata, bibir, lidah, laring dan ekstremitas, kesulitan dalam menelan atau bernapas, suara serak segera hubungi dokter anda.
  • Segera hubungi dokter jika mengalami infeksi (misalnya, sakit tenggorokan, demam) yang bisa saja merupakan tanda terjadinya neutropenia atau edema progresif yang berhubungan dengan proteinuria dan sindrom nefrotik.
  • Sebaiknya jangan menggunakan obat diuretik hemat kalium atau suplemen yang mengandung kalium atau pengganti garam kalium selama menggunakan Benazepril, karena ada potensi hiperkalemia.
  • Berkonsultasi dengan dokter jika anda berkeringat secara berlebihan, dehidrasi, muntah, atau diare karena dapat menyebabkan penurunan tekanan darah yang drastis akibat berkurangnya cairan tubuh.
  • Perhatian khusus perlu diberikan kepada pasien dengan bilateral renal artery stenosis atau pasien dengan ginjal tunggal penderita unilateral renal artery stenosis, penderita penyakit vaskular kolagen, aortic atau mitral valve stenosis, dan pasien dengan riwayat gangguan ginjal.
  • Diperlukan pengurangan dosis pada pasien-pasien lanjut usia, gagal ginjal, atau mengalami gangguan fungsi hati karena diketahui metabolit aktif Benazepril yaitu Benazeprilat meningkat pada pasien-pasien tersebut.
  • Jangan menghentikan pemakaian Benazepril tanpa diketahui dokter.

Penggunaan Benazepril oleh wanita hamil


FDA (badan pengawas obat dan makanan amerika serikat) mengkategorikan Benazepril kedalam kategori D dengan penjelasan sebagai berikut :

Terbukti beresiko terhadap janin manusia berdasarkan bukti-bukti empiris yang didapatkan dari investigasi, pengalaman marketing maupun  studi terhadap manusia. namun jika benefit yang diperoleh dipandang lebih tinggi dari resiko yang mungkin terjadi, obat ini bisa diberikan.

Penggunaan Benazepril selama kehamilan terutama trimester kedua dan ketiga bisa mengganggu fungsi ginjal janin dan meningkatkan resiko kematian janin. Obat ini menyebabkan oligohidramnion (tidak cukup cairan ketuban) yang dapat mengakibatkan hipoplasia paru dan deformasi tulang janin.

Jika bayi lahir, potensi efek samping yang mungkin terjadi jika ibunya selama hamil menggunakan obat ini meliputi hipoplasia tengkorak, anuria, hipotensi, gagal ginjal, dan bahkan kematian.

Oleh karena itu jika anda sedang hamil atau berencana untuk hamil sebaiknya memilih anti hipertensi yang lain.

Interaksi obat


Di bawah ini adalah interaksi obat-obat yang mengandung Benazepril dengan obat-obat lain jika digunakan secara bersamaan :

  • Pada awal-awal penggunaan bersamaan dengan obat-obat diuretik bisa mengakibatkan pengurangan berlebihan tekanan darah. Sebaiknya kurangi dosis awal Benazepril.
  • Peningkatan risiko hiperkalemia jika digunakan bersamaan dengan diuretik hemat kalium (spironolactone, amiloride, triamterene, dan lain-lain) dan suplemen Kalium.
  • Penggunaan bersamaan dengan obat-obatan antidiabetes (insulin, agen hipoglikemik oral) dapat menyebabkan peningkatan efek penurunan kadar glukosa.
  • Penggunaan bersamaan dengan NSAID, termasuk selektif COX-2 inhibitor, dapat mengakibatkan kerusakan fungsi ginjal, termasuk mungkin gagal ginjal akut. Efek antihipertensi ACE inhibitor, termasuk Benazepril, dapat dilemahkan oleh NSAID.
  • Dapat meningkatkan kadar serum dan toksisitas lithium.
  • Penggunaan bersamaan dengan obat-obat yang mempengaruhi renin-angiotensin system (RAS) seperti angiotensin receptor blocker, ACE inhibitor (termasuk captopril), atau aliskiren bisa meningkatkan terjadinya resiko hipotensi, hiperkalemia, dan kerusakan fungsi ginjal.
  • Licorice dapat memperburuk hipertensi.

Dosis Benazepril


Benazepril diberikan dengan dosis sebagai berikut :

  • Dosis dewasa untuk hipertensi

Dosis awal : 1 x sehari 10 mg secara oral. Obat sebaiknya diberikan pada waktu tidur.

Dosis pemeliharaan : 20 – 40 mg/ hari, dalam dosis tunggal atau dibagi dalam 2 dosis secara oral.

Dosis disesuaikan dengan respon pasien terhadap obat., maksimal 80 mg/hari.

Jika pengobatan secara tunggal tidak memberikan respon memuaskan, bisa dikombinasikan dengan diuretik, dengan dosis berikut : Dosis awal : 1 x sehari 5 mg secara oral.

  • Dosis anak   6 tahun untuk hipertensi

Dosis awal : 1 x sehari 0.2 mg/kg BB.

Dosis pemeliharaan : 1 x sehari 0.6 mg /kg BB.

Dosis maksimal : 40 mg/hari.

  • Dosis dewasa untuk gagal jantung

Dosis awal : 1 x sehari 2.5 mg. Bisa ditingkatkan sesuai respon penderita.

Dosis maksimal :  20 mg / hari.

Penyesuaian dosis Benazepril untuk penderita gangguan ginjal

  • CrCl ≥ 30 mL / menit : tidak diperlukan penyesuaian dosis.
  • CrCl < 30 mL / menit :

Dewasa : dosis awal 1 x sehari 5 mg. Maksimal 40 mg/hari.

Anaka-anak : Tidak direkomendasikan (kontraindikasi).

Terkait


  • Obat yang termasuk ACE-inhibitors
  • Obat yang termasuk anti hipertensi