cimetidine

Cimetidine adalah obat yang digolongkan sebagai antagonis reseptor histamin H2 (histamin H2-receptor antagonist). cimetidine berfungsi sebagai obat untuk penyakit-penyakit yang disebabkan oleh kelebihan produksi asam lambung, seperti obat sakit maag dan tukak lambung. Obat ini bekerja dengan cara menghambat kerja reseptor histamin H2, yang sangat berperan dalam sekresi asam lambung. Penghambatan kerja reseptor H2 menyebabkan produksi asam lambung menurun baik dalam kondisi istirahat maupun adanya rangsangan oleh makanan, histamin, pentagastrin, kafein dan insulin.

Obat ini biasanya dipasarkan dengan kadar 200 mg atau 400 mg / tablet, 200 mg / 5 ml sirup dan 100 mg / ml sediaan injeksi.

Indikasi


Kegunaan cimetidine adalah untuk pengobatan kondisi-kondisi berikut :

  • Cimetidine digunakan dalam pengobatan gastroesophageal reflux disease (GERD), suatu penyakit akibat terjadinya iritasi karena kelebihan asam lambung dimana penderita mengalami sensasi seperti terbakar di area dada dan kerongkongan.
  • Untuk mengobati tukak lambung dan tukak usus duabelas jari.
  • cimetidine juga berguna untuk menangani erosif esophagitis, meskipun efektivitasnya lebih rendah daripada obat-obat golongan penghambat pompa proton seperti omeprazole atau lansoprazole.
  • Untuk pengobatan zollinger ellison syndrome, penyakit langka karena adanya tumor pankreas atau usus duabelas jari melepaskan hormon sehingga terjadi kelebihan sekresi asam lambung.
  • Pada pengobatan penyakit maag, antagonis H2 seperti cimetidine lebih baik daripada antasida, misanya durasi kerja yang lebih lama, efektivitas lebih tinggi, termasuk jika digunakan sebagai pencegahan (profilaksis) kambuhnya maag dengan cara digunakan sebelum makan.

Kontra indikasi


  • jangan digunakan untuk pasien yang memiliki riwayat hipersensitif pada cimetidine atau obat golongan antagonis reseptor H2 lainnya.

Efek samping


Secara umum obat ini bisa ditoleransi dengan baik, meskipun dibandingkan dengan anatagonis reseptor H2 yang lebih baru seperti ranitidine efek sampingnya lebih banyak. Berikut adalah beberapa efek samping cimetidine yang mungkin terjadi :

  • sakit kepala, pusing, dan mengantuk.
  • Efek samping cimetidine pada saluran kardiovaskular seperti takikardia, bradikardia, hipotensi, perpanjangan interval QT, telah dilaporkan pada penggunaan antagonis reseptor H2. Efek ini lebih sering terjadi pada penggunaan secara intravena. Sedangkan penggunaan secara oral maupun infus, efek samping ini lebih jarang terjadi.
  • Meskipun jarang, diskrasia darah kadang terjadi pada pemakaian obat ini. Jika pasien yang memakai obat ini mengalami demam, menggigil, sakit tenggorokan, mudah memar, dan gejala lain dari diskrasia darah, pemakaian obat ini sebaiknya dihentikan.
  • Efek samping cimetidine pada organ hati secara umum jarang. Jika ciri-ciri toksisitas hati seperti demam, ruam, eosinofilia, dan ciri-ciri hipersensitivitas lainnya terjadi, segera hentikan pemakaian obat ini.
  • Hati-hati menggunakan cimetidine pada pasien yang pernah mengalami toksisitas hati akibat pemakaian antagonis reseptro H2 lain seperti famotidine.
  • Reaksi hipersensitivitas akibat pemakaian cimetidine sangat jarang, namun jika terjadi pertolongan medis harus segera diberikan karena bisa menyebabkan syok anafilaksis yang berakibat fatal.
  • Efek pada ginjal yang diketahui terjadi setelah pemakaian obat ini adalah terjadinya peningkatan serum kreatinin. Peningkatan kadang bisa mencapai 20 %. Pasien-pasien dengan kelainan ginjal, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter jika akan menggunakan obat ini.

Perhatian


  • Pemakaian cimetidine harus dihentikan jika tanda-tanda awal reaksi alergi seperti ruam, gatal, sakit tenggorokan, demam, arthralgia, pucat, atau tanda-tanda lainnya muncul, karena jika terjadi bisa berakibat fatal.
  • cimetidine diketahui ikut keluar bersama air susu ibu (ASI) meskipun obat ini didegradasi dengan sangat cepat oleh kondisi asam, sehingga hanya sejumlah kecil obat yang masuk ke air susu ibu dan terminum oleh bayi, pemakaian cimetidine oleh ibu menyusui sebaiknya dihindari. Namun jika anda ragu, berkonsultasilah dengan dokter anda.
  • Sebaiknya tidak menggunakan cimetidine untuk anak-anak di bawah usia 16 tahun kecuali atas pertimbangan medis dari dokter.
  • Hati-hati menggunakan obat ini pada pasien dengan gangguan fungsi hati dan ginjal.
  • cimetidine bisa menyebabkan pusing. Jangan mengemudi atau menyalakan mesin selama menggunakan obat ini.

Penggunaan cimetidine oleh ibu hamil


penelitian pada reproduksi hewan tidak menunjukkan resiko pada janin dan tidak ada studi yang memadai dan terkendali dengan baik pada wanita hamil / Penelitian pada hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin, tapi studi yang memadai dan terkendali dengan baik pada wanita hamil tidak menunjukkan resiko pada janin di trimester berapapun.

Penelitian pada hewan tidak bisa digunakan acuan keamanan obat ini jika digunakan oleh ibu hamil. Karena penelitian klinis pada manusia belum dilakukan sebaiknya penggunaan oleh ibu hamil hanya jika sangat dibutuhkan.

interaksi obat


Berikut adalah interaksi cimetidine dengan obat-obat lain :

  • Cimetidine mengurangi metabolisme obat-obat seperti antikoagulan warfarin dan kumarin, fenitoin, propanolol, nifedipin, diazepam, tramadol dan metadon yang mengakibatkan peningkatan kadar obat-obat tersebut dalam plasma darah sehingga meningkatkan potensi terjadinya efek samping yang merugikan.
  • Obat-obat yang bioavailabilitasnya baik dalam kondisi asam seperti ketokonazole, atazanavir, dan ester ampicillin, penyerapannya akan menurun sehingga mengurangi efektivitasnya.
  • Sedangkan obat-obat yang labil dalam kondisi asam seperti erythromycin, dan digoxin penyerapannya akan meningkat.
  • Penggunaan dengan kontrasepsi hormonal sebaiknya dihindari karena cimetidine adalah antagonis kompetitif dihidrotestosteron (DHT) reseptor, yang menyebabkan efek farmakologis estrogen meningkat Hal ini dapat menyebabkan galaktorea pada wanita, sedangkan laki-laki bisa mengalami ginekomastia.

Dosis cimetidine


Cimetidine diberikan dengan dosis sebagai berikut :

  • Dosis lazim dewasa untuk tukak usus duabelas jari

Parenteral : 300 mg intravena/intramuskular setiap 6 – 8 jam. Continous infus intravena diberikan pada dosis 37.5 – 50 mg / jam, maksimum 100 mg / jam (2.4 g / hari).

Oral : 800 mg – 1600 mg 1 x sehari. Obat diberikan saat akan tidur. Atau 300 mg 4 x sehari, saat akan makan dan sebelum tidur, atau 400 mg 2 x sehari, pagi dan sebelum tidur.

  • Dosis lazim dewasa untuk pencegahan (profilaksis) tukak usus duabelas jari

Parenteral : 300 mg intravena / intramuskular 1x atau 2 x sehari.

Oral : 400 mg 1 x sehari saat akan tidur.

  • Dosis lazim dewasa untuk erosif esofagitis

Parenteral : 300 mg intravena / intramuskular setiap 6 jam. Continous infus intravena diberikan pada dosis awal 50 mg / jam, ditingkatkan 25 mg / jam hingga maksimum 100 mg / jam (2.4 g / hari).

Oral : 800 mg 2 x sehari, atau 400 mg 4 x sehari.

  • Dosis lazim dewasa untuk pencegahan maag

Parenteral : 300 mg intravena / intramuskular setiap 6 jam. Continous infus intravena diberikan pada dosis 50 mg / jam.

  • Dosis lazim dewasa untuk perdarahan saluran pencernaan bagian atas

Continous infus intravena diberikan pada dosis awal 50 mg / jam diawali dengan bolus intravena sebesar 150 mg. Dosis maksimum : 2.4 g/hari.

  • Dosis lazim dewasa untuk Zollinger-Ellison Syndrome

Parenteral : 300 mg secara intravena / intramuskular setiap 6 jam. Continous infus intravena diberikan pada dosis awal 50 mg / jam. Dosis dapat ditingkatakan tapi tidak melebihi dosis maksimum : 2.4 g/hari.

Oral : 300 mg 4 x sehari saat akan makan dan sebelum tidur.

  • Dosis lazim dewasa untuk tukak lambung (maag)

Parenteral : 300 mg intravena / intramuskular setiap 6 jam. Continous infus intravena diberikan pada dosis 50 mg / jam.

Oral : 800 mg 1 x sehari saat akan tidur, atau 300 mg 4 x sehari, saat akan makan dan sebelum tidur.

  • Dosis lazim dewasa untuk gastroesophageal reflux disease (GERD)

Parenteral : 300 mg intravena / intramuskular setiap 6 jam. Atau, Continous infus intravena diberikan pada dosis awal 50 mg / jam. Dosis maksimum : 2.4 g/hari.

Oral : 800 mg 2 x sehari, atau 400 mg 4 x sehari, saat akan makan dan sebelum tidur.

  • Dosis lazim dewasa untuk dispepsia

200 mg 1 x sehari secara oral saat akan makan atau paling lambat 30 menit sebelum makan. Maksimum: 2 x 200 mg per hari.

  • Dosis lazim pediatrik untuk gastroesophageal reflux disease (GERD)

Neonatal : 5 – 10 mg / kg / hari diberikan intravena / intramuskular dalam dosis terbagi setiap 8 – 12 jam.

Bayi : 10 – 20 mg / kg / hari diberikan secara intravena, intramuskular, atau oral dalam dosis terbagi setiap 6 – 12 jam.

Anak-anak : 20 – 40 mg / kg / hari secara intravena, intramuskular, atau oral dalam dosis terbagi setiap 6 – 12 jam.

  • Dosis lazim pediatric untuk dispepsia

200 mg 1 x sehari secara oral saat akan makan atau paling lambat 30 menit sebelum makan. Maksimum : 2 x 200 mg per hari.

Terkait


  • merk-merk obat dengan kandungan zat aktif cimetidine
  • merk-merk obat yang termasuk histamin H2-receptor antagonist
  • obat maag

Jika informasi ini berguna, bagikan ke teman – teman anda