Valisanbe injeksi

Valisanbe injeksi adalah obat yang digunakan untuk terapi jangka pendek pada penderita ansietas (kecemasan), insomnia, terapi tambahan pada kondisi putus alkohol akut, status epileptikus, kejang demam, dan spasme otot. Valisanbe injeksi mengandung diazepam, obat yang termasuk golongan benzodiazepine. Berikut ini adalah informasi lengkap valisanbe injeksi yang disertai tautan merk-merk obat lain dengan nama generik yang sama.

pabrik


Sanbe farma

golongan


Harus dengan resep dokter

kemasan


valisanbe injeksi dipasarkan dengan kemasan sebagai berikut :

  • Dos 10 x 1 ampul injeksi 10 mg / 2 ml

kandungan


tiap kemasan valisanbe injeksi mengandung zat aktif (nama generik) sebagai berikut :

  • Diazepam 10 mg / 2 ml injeksi

Sekilas tentang zat aktif (nama generik)


Diazepam adalah obat yang digunakan sebagai obat penenang, anti konvulsan, dan relaksan otot. Obat ini biasanya digunakan dalam situasi seperti kecemasan, kejang otot, dan sulit tidur. Obat ini sebaiknya hanya digunakan dalam terapi jangka pendek. Diazepam termasuk obat golongan benzodiazepine yang bekerja dengan cara meningkatkan efek dari neurotransmitter gamma-Aminobutyric acid (GABA).

Indikasi valisanbe injeksi


Berikut ini adalah beberapa kegunaan valisanbe injeksi (diazepam) :

  • Valisanbe injeksi (diazepam) terutama digunakan untuk pengobatan jangka pendek pada ansietas atau insomnia (sulit tidur), kejang demam, kecemasan, dan kepanikan.
  • Sebagai tambahan untuk menghilangkan kejang otot rangka karena spasme refleks patologi lokal.
  • Digunakan juga sebagai obat premedikasi untuk menginduksi sedasi, anxiolysis, atau amnesia sebelum prosedur medis tertentu (misalnya, endoskopi).
  • Sebagai tambahan untuk menangani gejala putus alkohol akut, obat ini berguna dalam mengurangi gejala-gejala agitasi akut, tremor, dan halusinasi.
  • Obat pilihan untuk mengobati ketergantungan benzodiazepine.
  • Efek antikonvulsan valisanbe injeksi (diazepam) dapat membantu dalam pengobatan kejang karena overdosis obat atau racun kimia seperti zat Sarin, VX, atau soman (atau racun organofosfat lainnya), lindane, klorokuin, physostigmine, atau piretroid.
  • Diazepam intravena atau lorazepam adalah obat lini pertama untuk status epileptikus. Namun, lorazepam lebih dipilih karena memiliki keunggulan seperti efektivitas yang lebih tinggi untuk mengakhiri kejang dan efek antikonvulsan yang lebih lama.

Kontra indikasi


  • Jangan digunakan untuk pasien yang memiliki riwayat hipersensitif pada diazepam atau obat golongan benzodiazepine lainnya.
  • Hindari penggunaan obat ini pada pasien myasthenia gravis, insufisiensi pernapasan berat, insufisiensi hati berat, insufisiensi ginjal berat, insufisiensi pulmoner akut, kondisi fobia dan obsesi, psikosis kronik, serangan asma akut, dan sleep apnea sindrom.
  • Kontraindikasi pada glaukoma sudut sempit akut.
  • Hindari menggunakan obat ini untuk wanita hamil terutama pada  trimester pertama atau ibu menyusui.
  • Tidak boleh digunakan sebagai terapi tunggal pada depresi atau ansietas dengan depresi.

Efek samping valisanbe injeksi


Berikut adalah beberapa efek samping valisanbe injeksi (diazepam) :

  • Efek samping yang umum adalah mengantuk, kesulitan koordinasi, kelelahan, kelemahan otot, ataksia, dan kepala terasa ringan.
  • Efek samping yang lebih jarang misalnya nyeri kepala, vertigo, perubahan salivasi, gangguan saluran cerna, ruam kulit, dan gangguan penglihatan.
  • Efek samping yang lebih serius, tetapi kejadiannya relatif jarang  misalnya depresi pernapasan, ketergantungan, gangguan mental, amnesia, kebingungan, kelainan darah dan sakit kuning, retensi urin, dan hipotensi.
  • Efek samping paradoks dapat terjadi, termasuk kegelisahan, lekas marah, kegembiraan, memburuknya kejang, insomnia, kram otot, perubahan libido, dan dalam beberapa kasus, kemarahan dan kekerasan. Efek samping ini lebih mungkin terjadi pada anak-anak, orang tua, dan individu dengan riwayat penyalahgunaan obat atau alkohol dan atau agresi.
  • Obat ini meningkatkan risiko kejang jika digunakan terlalu sering pada pasien pengidap epilepsi.
  • Penggunaan jangka panjang dapat mengakibatkan toleransi, ketergantungan, dan gejala putus obat pada pengurangan dosis.
  • pada injeksi intravena terjadi bisa terjadi nyeri, dan tromboflebitis.

Perhatian


Hal-hal yang perlu diperhatikan pasien selama menggunakan valisanbe injeksi (diazepam) adalah sebagai berikut :

  • Pemakaian obat harus dihentikan jika muncul ruam kulit atau tanda lain yang menunjukkan reaksi alergi karena bisa berakibat fatal.
  • Obat ini menyebabkan pusing dan mengantuk, jangan mengemudi, menyalakan mesin, atau mengerjakan pekerjaan yang memerlukan konsentrasi tinggi saat menggunakan obat ini.
  • Berikan dengan hati-hati untuk pasien lanjut usia. Kurangi dosis jika diperlukan. Dosis dibatasi pada jumlah efektif terkecil untuk menghalangi perkembangan ataksia atau sedasi (2 mg – 2.5 mg 1 x sehari atau 2 x sehari, bisa ditingkatkan secara bertahap sesuai kebutuhan).
  • Jangan menggunakan obat ini dalam jangka panjang karena bisa menyebabkan ketergantungan. Potensi ketergantungan meningkat pada pasien dengan riwayat penyalahgunaan alkohol atau narkoba.
  • Dosis yang lebih rendah direkomendasikan untuk pasien dengan insufisiensi pernapasan kronis, karena risiko depresi pernapasan.
  • Valisanbe injeksi (diazepam) tidak dianjurkan dalam pengobatan pasien psikotik dan tidak boleh digunakan sebagai pengganti perawatan yang tepat.
  • Penghentian pemakaian obat secara mendadak setelah penggunaan jangka panjang berpotensi berbahaya.
  • Diazepam masuk ke dalam air susu ibu (ASI). Jangan menggunakan obat ini selama menyusui.
  • Reaksi kejiwaan dan paradoks diketahui bisa terjadi akibat penggunaan obat-obat golongan benzodiazepin (lihat Efek samping). Jika hal ini terjadi, penggunaan obat harus dihentikan. Efek samping ini lebih sering terjadi pada anak-anak dan orang tua.

Penggunaan Valisanbe injeksi oleh wanita hamil


FDA (badan pengawas obat dan makanan amerika serikat) mengkategorikan diazepam kedalam kategori D dengan penjelasan sebagai berikut :

Terbukti beresiko terhadap janin manusia berdasarkan bukti-bukti empiris yang didapatkan dari investigasi, pengalaman marketing maupun  studi terhadap manusia. namun jika benefit yang diperoleh dipandang lebih tinggi dari resiko yang mungkin terjadi, obat ini bisa diberikan.

Seperti obat golongan benzodiazepin lainnya, diazepam bersifat lipofilik dan cepat menembus membran, sehingga dapat menyeberang ke plasenta dengan serapan obat yang signifikan. Penggunaan diazepam pada akhir kehamilan, apalagi dengan dosis tinggi, bisa mengakibatkan sindrom bayi floppy, hipotonia, keengganan untuk mengisap, sianosis, hipotermia, dan depresi pernafasan moderat.

Peningkatan risiko cacat bawaan dan kelainan perkembangan lain yang terkait dengan penggunaan obat golongan benzodiazepin selama kehamilan juga telah dilaporkan.

interaksi obat


Berikut adalah interaksi obat yang mengandung diazepam termasuk valisanbe injeksi dengan obat-obat lain :

  • Obat-obat seperti barbiturat, fenotiazin, opioid, dan antidepresan meningkatkan efek diazepam.
  • Obat yang mempengaruhi enzim hati sitokrom P450 dapat mengubah laju metabolisme diazepam.
  • Diazepam meningkatkan efek depresi sentral dari alkohol, obat hipnotik / sedatif (misalnya, barbiturat), relaksan otot, antidepresan tertentu, antihistamin sedatif, opioid, dan antipsikotik, serta antikonvulsan seperti fenobarbital, fenitoin, dan carbamazepine.
  • Efek euforia opioid dapat ditingkatkan, yang menyebabkan peningkatan risiko ketergantungan psikologis.
  • Cimetidine, omeprazole, oxcarbazepine, tiklopidin, topiramate, ketoconazole, itraconazole, disulfiram, fluvoxamine, isoniazid, erythromycin, probenesid, propranolol, imipramine, ciprofloxacin, fluoxetine, dan asam valproat memperpanjang aksi diazepam dengan menghambat eliminasinya.
  • Teofilin dapat menghambat efek diazepam.
  • Diazepam dapat menghambat efek levodopa (digunakan dalam pengobatan penyakit Parkinson).

Dosis valisanbe injeksi


Valisanbe injeksi (diazepam) diberikan dengan dosis sebagai berikut :

  • Dosis lazim dewasa untuk Kecemasan (ansietas)

Intramuskular atau intravena : 2 – 5 mg (kecemasan moderat) atau 5 – 10 mg (kecemasan berat) dalam dosis tunggal. Dapat diulangi setelah 3 – 4 jam, jika perlu.

  • Dosis lazim dewasa untuk gejala putus alkohol

Intramuskular atau intravena : 5 – 10 mg 1 x. Dapat diulangi setelah 3 – 4 jam, jika perlu.

  • Dosis lazim dewasa untuk ICU Agitasi

dosis awal : 0.02-0.08 mg / kg intravena lebih dari 2 – 5 menit setiap 0.5 – 2 jam untuk menangani agitasi akut.

Dosis pemeliharaan : 0.4-0.2 mg / kg BB / hari dengan infus intravena kontinu.

  • Dosis lazim dewasa untuk kekakuan otot (spasme)

Intramuskular atau intravena : 5 – 10 mg sebagai dosis awal, kemudian 5 – 10 mg setelah 3 – 4 jam, jika perlu. Untuk tetanus, dosis yang lebih besar mungkin diperlukan.

  • Dosis lazim dewasa untuk premedikasi tindakan endoskopi atau radiologi

Intravena : 10 – 20 mg, sesuai keperluan untuk menghasilkan efek sedasi yang diinginkan pada beberapa pasien.

Intramuskular : 5 – 10 mg, 30 menit sebelum prosedur.

  • Dosis lazim dewasa untuk status epileptikus

intravena atau intramuskular : dosis awal 5 – 10 mg. Dapat diulang dengan interval 10 – 15 menit sampai dosis maksimum 30 mg. Jika perlu, bisa diulang lagi setelah 2 – 4 jam.

  • Dosis lazim dewasa untuk anestesi ringan

Premedikasi untuk anestesi : 10 mg, intramuskular, 1 – 2 jam sebelum operasi.

  • Dosis lazim anak untuk status epileptikus

Bayi berusia lebih dari 30 hari dan anak usia kurang dari 5 tahun : intravena lambat 0.2 – 0.5 mg setiap 2 – 5 menit sampai total dosis maksimum 5 mg. Ulangi setelah 2 – 4 jam jika diperlukan.

Anak-anak yang usia lebih besar atau sama dengan 5 tahun : intravena lambat 1 mg setiap 2 – 5 menit sampai maksimum 10 mg. Ulangi setelah 2 – 4 jam jika diperlukan.

  • Dosis lazim anak untuk Kecemasan (Usia 1 – 12 tahun)

Intramuskular : 0.04-0.3 mg / kg BB setiap 2 – 4 jam sesuai kebutuhan, sampai maksimum 0.6 mg / kg BB dalam 8 jam.

  • Dosis lazim anak untuk kekakuan otot (spasme) (Usia 1 – 12 tahun )

Intramuskular : 0.04-0.3 mg / kg BB setiap 2 – 4 jam sesuai kebutuhan, sampai maksimum 0.6 mg / kg BB dalam 8 jam.

  • Dosis lazim anak untuk kejang profilaksis (Usia 1 – 12 tahun)

Intramuskular : 0.04-0.3 mg / kg BB setiap 2 – 4 jam sesuai kebutuhan, sampai maksimum 0.6 mg / kg BB dalam 8 jam.

  • diazepam intravena harus diberikan secara perlahan-lahan selama 2 – 5 menit. Maksimum laju injeksi 5 mg / menit untuk orang dewasa dan 1 – 2 mg / menit untuk bayi dan anak-anak.

Terkait