Fusidic acid

Fusidic acid adalah antibiotik bakteriostatik yang bisa digunakan baik secara topikal maupun secara sistemik. Fusidic acid sering digunakan dalam bentuk salep atau cream untuk infeksi kulit, bisa juga sebagai obat tetes mata, atau dalam bentuk tablet dan suntikan bila infeksi meliputi area yang luas.

Fusidic acid bisa digunakan dalam bentuk garamnya yaitu, Sodium fusidate/Natrium  fusidate. Baik bentuk asam maupun garam mempunyai mekanisme aksi yang sama yaitu, bekerja dengan cara mengganggu translokasi subunit peptida dan memanjangkan rantai peptida bakteri yang rentan. Hal ini menyebabkan terhambatnya sintesis protein. Fusidic acid menghambat translasi bakteri dan tidak membunuh bakteri, oleh karena itu antibiotik ini disebut bakteriostatik.

Fusidic acid efektif untuk mengobati infeksi yang disebabkan terutama oleh bakteri gram positif seperti Staphylococcus, Streptococcus, Corynebacterium, dan sebagian besar Clostridium. Bila infeksi ringan biasanya digunakan sediaan salep/cream, namun jika infeksi terjadi pada area yang lebih luas, sediaan tablet atau bahkan injeksi bisa dijadikan pilihan.

Jika pada area infeksi juga disertai radang, antibiotik ini sering dikombinasikan dengan obat anti inflamasi steroid seperti hydrocortisone atau betamethasone. Kombinasi Fusidic acid topikal baik dengan betamethasone atau hydrocortisone sangat berguna dalam pengobatan atopik dermatitis / eksim.

Indikasi


Kegunaan Fusidic acid adalah untuk mengobati infeksi yang disebabkan terutama oleh bakteri gram positif seperti Staphylococcus, Streptococcus, Corynebacterium, dan sebagian besar Clostridium. Antibiotik ini bisa digunakan dalam berbagai formulasi misalnya :

  • Sediaan topikal (salep,cream,gel) : Pengobatan infeksi kulit dan jaringan lunak yang ringan sampai sedang, misalnya impetigo contagiosa, folicullitis superfisial, erythrasma, furunkulosis, abses, paronychia, sycosis barbae, hidradenitis axillaris, dan luka traumatis yang terinfeksi. Kadang-kadang digunakan dalam pengobatan jerawat/Acne vulagaris.
  • Sediaan tetes mata/Ophthalmic : untuk mengobati konjungtivitis.
  • Sediaan oral (tablet, suspensi) dan Sediaan injeksi injeksi : digunakan bila infeksi parah dan mencakup area tubuh yang luas.

Kontra indikasi


  • Penggunaan Fusidic acid harus dihindari pada pasien yang memiliki riwayat hipersensitif/alergi pada Fusidic acid.
  • Jangan digunakan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh organisme yang tidak peka terhadap Fusidic acid terutama Pseudomonas aeruginosa.

Efek Samping Fusidic acid


Berikut adalah beberapa efek samping Fusidic acid :

  • Sediaan oral (tablet dan suspensi) : kadang-kadang menyebabkan gangguan hati, yang dapat menghasilkan penyakit kuning (warna kuning pada kulit dan putih mata). Kondisi ini biasanya akan hilang setelah pasien menghentikan penggunaan tablet atau suspensi. Efek samping lainnya termasuk urin gelap dan tinja lebih encer. Hal ini juga akan hilang ketika pengobatan selesai.
  • Sediaan injeksi intravena : Venospasme, tromboflebitis dan hemolisis. Bisa juga terjadi hipokalsemia.
  • Sediaan injeksi Subcutan / Intramuscular : biasanya terjadi tissue necrosis/kondisi sakit pada jaringan tempat injeksi.
  • Sediaan topikal (salep,cream,gel) : antibiotik ini relatif bisa ditoleransi dengan baik pada penggunaan secara topikal. Beberapa efek samping ringan yang sering terjadi misalnya ruam kulit, urtikaria, dan iritasi.

Perhatian


Hal-hal yang perlu diperhatikan pasien selama menggunakan Fusidic acid adalah sebagai berikut :

  • Sebelum menggunakan Fusidic acid, anda harus yakin tidak memiliki alergi terhadap antibiotik ini.
  • Tidak untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh virus.
  • Gunakan obat sesuai dengan anjuran dokter, baik jumlah maupun durasinya. Menghentikan pengobatan di tengah jalan bisa meningkatkan resiko terjadinya sensitisasi dan resistensi bakteri terhadap antibiotik ini.
  • Jika memungkinkan, hindari penggunaan selama masa akhir kehamilan, karena bisa menyebabkan kernikterus pada bayi pada usia 1 bulan awal.
  • Sediaan oral dan injeksi : Penggunaan pada neonatus, wanita hamil, dan ibu menyusui perlu lebih hati-hati.
  • Sediaan oral dan injeksi : Hati-hati memberikan Fusidic acid pada penderita dengan fungsi hati dan ginjal yang rusak. Pemeriksaan terhadap kesehatan fungsi hati, ginjal, dan darah secara berkala perlu dilakukan terutama pada pemakaian obat dalam jangka waktu panjang.
  • Sediaan oral : Pemakaian Fusidic acid bisa menyebabkan terjadinya super infeksi yang biasanya terjadi pada saluran pencernaan (umumnya disebabkan oleh Enterobacter, Pseudomonas, S.aureus Candida). Jika terjadi superinfeksi pengobatan dengan antibiotik ini harus dihentikan dan segera lakukan pengobatan yang tepat.
  • Sediaan oral : harus digunakan dengan makanan.
  • Sediaan injeksi :  tidak kompatibel dengan larutan asam amino atau darah utuh. Admixture incompatibility : Carbenicillin, kanamycin, gentamicin, calcium solutions.
  • Sediaan topikal/cream, salep, gel : Hindari kontak dengan mata.

Penggunaan Fusidic acid oleh wanita hamil


Data keamanan penggunaan antibiotik ini selama masa hamil sangat terbatas. Penelitian pada hewan dan data yang dikumpulkan dari pengalaman klinis menunjukkan bahwa Fusidic acid tidak mempunyai efek teratogenik (cacat lahir).

Fusidic acid diketahui dapat melewati sawar plasenta. Oleh karena itu penggunaannya pada masa kehamilan terutama saat trimester akhir sebaiknya dihindari.

Interaksi obat


Obat-obat dengan kandungan zat aktif Fusidic acid termasuk Fusidic acid berinteraksi dengan obat-obat lain sebagai berikut :

  • Berefek sinergis jika digunakan bersama dengan antistaphylococcal penicillin.
  • Efek sinergis juga terjadi jika digunakan bersama rifampisin.
  • Berefek antagonis dengan obat golongan quinolone misalnya ciprofloxacin.
  • Badan pengawas obat di beberapa negara memperingatkan untuk tidak digunakan sediaan oral bersama dengan obat-obat golongan statin karena bisa menyebabkan rhabdomyolysis. Resiko ini berpotensi fatal. Obat-obat statin misalnya, atorvastatin, dan simvastatin.

Dosis Fusidic acid


Fusidic acid diberikan dengan dosis berikut :

Sediaan intravena (Diberikan melalui infus intravena lambat selama setidaknya 2 jam. Harus diberikan melalui vena besar dengan aliran darah yang baik)

Untuk infeksi oleh bakteri yang peka :

  • Dosis dewasa dengan berat badan > 50 kg : 3 x sehari 500 mg. Pada infeksi berat bisa ditingkatkan sampai 3 x sehari 1 gram.
  • Dosis dewasa dengan berat badan <50 kg : 3 x sehari 6-7 mg / kg berat badan.
  • Dosis anak : 20 mg / kg berat badan sehari dalam 3 dosis terbagi.

Sediaan tetes mata 1 %

Untuk konjungtivitis :

  • Dosis dewasa : 1 tetes ke mata yang sakit setiap 12 jam selama 7 hari.
  • Dosis anak usia ≥ 2 tahun : 1 tetes ke mata yang sakit setiap 12 jam selama 7 hari.

Sediaan oral (tablet/suspensi)

Untuk infeksi oleh bakteri yang peka :

  • Dosis dewasa : 3 x sehari 500 mg. Pada infeksi berat bisa ditingkatkan sampai 3 x sehari 1 gram.
  • Dosis anak usia <1 tahun : Sekitar 15 mg / kg berat badan.
  • Dosis anak usia 1-5 tahun 3 x sehari 250 mg
  • Dosis anak usia 5-12 tahun : 3 x sehari 500 mg.

Sediaan topikal (salep/cream 2 %)

Untuk infeksi kulit :

  • Dosis dewasa : oleskan 3-4 x sehari sampai sembuh. Jika menggunakan kasa ganti, frekuensi dapat dikurangi menjadi 1-2 x
  • Dosis anak : oleskan 3-4 x sehari sampai sembuh. Jika menggunakan kasa ganti, frekuensi dapat dikurangi menjadi 1-2 x

Terkait