Itraconazole

Itraconazole adalah obat yang digunakan untuk mengobati berbagai infeksi jamur, terutama infeksi jamur sistemik seperti aspergillosis, kandidiasis, dan kriptokokosis, di mana obat antijamur lain tidak lagi efektif. Obat ini termasuk golongan triazole yang memiliki spektrum yang lebih luas dari fluconazole.

Seperti semua agen antijamur kelas azole, itraconazole mengganggu sintesis membran sel jamur dengan cara menghambat enzim sitokrom P450 14α-demethylase (P45014DM). Penghambatan ini mencegah konversi lanosterol ke ergosterol, komponen penting dari membran sitoplasma jamur.

Obat ini dapat diberikan secara oral atau intravena, biasanya dipasarkan berupa itraconazole 100 mg kapsul dan 10 mg / ml larutan oral.

Indikasi


Berikut ini adalah beberapa kegunaan itraconazole :

  • Itraconazole digunakan untuk pengobatan infeksi jamur sistemik seperti aspergillosis, kandidiasis, dan kriptokokosis, di mana obat antijamur lain tidak efektif.
  • Itraconazole efektif untuk pengobatan infeksi jamur pada pasien immunocompromised dan non-immunocompromised seperti blastomycosis paru dan luar paru, histoplasmosis, termasuk chronic cavitary pulmonary disease and disseminated, histoplasmosis non-meningeal, dan aspergillosis paru dan luar paru pada pasien yang tidak toleran atau yang refrakter terhadap terapi amfoterisin B.
  • Pengobatan kandidiasis orofarings dan vulvo vaginal, onychomycosis, ptyriasis versicolor, dan infeksi dermatofita lainnya.
  • Untuk mencegah infeksi jamur pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah, termasuk orang-orang dengan neutropenia akibat kemoterapi kanker, orang-orang dengan infeksi HIV lanjut, pasien transplantasi, dan bayi prematur.
  • Di beberapa negara, anti jamur golongan triazole seperti itraconazole lebih dipilih dibandingkan ketoconazole untuk penggunaan sebagai anti jamur sistemik, karena memiliki afinitas yang lebih besar terhadap membran sel jamur dan memiliki toksisitas yang lebih kecil.
  • Itraconazole juga telah dieksplorasi sebagai agen antikanker untuk pasien dengan karsinoma sel basal, kanker paru-paru, dan kanker prostat.

Kontra indikasi


  • Jangan digunakan untuk pasien yang memiliki riwayat hipersensitif pada itraconazole atau obat golongan triazole lainnya.
  • Jangan menggunakan obat ini untuk pengobatan onychomycosis pada pasien yang memiliki disfungsi ventrikel seperti gagal jantung kongestif (CHF) atau riwayat CHF, wanita hamil atau yang berencana hamil.
  • Jangan menggunakan obat ini pada pasien yang sedang menggunakan obat lain yang dimetabolisme melalui enzim CYP3A4 seperti metadon, disopiramid, dofetilide, dronedarone, quinidine, alkaloid ergot (seperti dihydroergotamine, ergometrine (ergonovin), ergotamine, metilergometrin (metilergonovin)), irinotecan, lurasidone, midazolam oral, pimozide, triazolam, felodipin, nisoldipin, ranolazine, eplerenone, cisapride, lovastatin, simvastatin, ticagrelor, colchicine, fesoterodine, telitromisin dan solifenacin karena konsentrasi plasma obat-obat tersebut meningkat sehingga efek farmakologi dan efek sampingnya meningkat misalnya terjadi perpanjangan QT dan ventrikel takiaritmia termasuk kejadian torsade de pointes.

Efek samping


Secara umum obat ini bisa ditoleransi dengan baik oleh sebagian besar orang meskipun fluconazole bisa ditoleransi lebih baik. Berikut adalah beberapa efek samping itraconazole :

  • Efek samping yang umum diantaranya ruam, sakit kepala, pusing, mual, muntah, sakit perut, diare, dan peningkatan kinerja enzim hati.
  • Efek samping yang lebih jarang misalnya anoreksia, tubuh rasa lelah, kehilangan selera makan, sembelit, kulit kuning (jaundice), mata kuning, gatal-gatal, rambut rontok, urin yang lebih gelap dan tinja berwarna pucat.
  • Efek samping yang sangat jarang seperti oliguria, hipokalemia pada penggunaan jangka panjang, parestesia, kejang, alopecia, angioudem, anafilaksis, lesi bulosa, nekrolisis epidermal toksik, sindrom Stevens-Johnson, trombositopenia, diskrasia darah lainnya,dan hepatotoksisitas serius termasuk gagal hati.
  • Pada pasien AIDS pernah dilaporkan terjadi reaksi kulit yang parah.
  • Tingkat SGPT tinggi ditemukan pada orang yang menggunakan itraconazole.
  • Itraconazole beresiko menimbulkan atau memperparah gagal jantung kongestif, oleh karena itu pemberian obat ini untuk orang-orang yang memiliki penyakit ini atau memiliki riwayat penyakit ini adalah kontraindikasi.
  • Gangguan pendengaran bisa terjadi saat menggunakan itraconazole. Gangguan ini biasanya sembuh ketika pengobatan dihentikan.

Perhatian


Hal-hal yang perlu diperhatikan pasien selama menggunakan obat ini adalah sebagai berikut :

  • Obat diberikan bersama makanan dan ditelan utuh.
  • Pemakaian harus dihentikan jika muncul ruam kulit atau tanda lain yang menunjukkan reaksi alergi karena bisa berakibat fatal.
  • Obat ini kadang-kadang menyebabkan pusing dan mengantuk, jangan mengemudi atau menyalakan mesin saat menggunakan obat ini.
  • Itraconazole harus diberikan secara hati-hati pada pasien dengan disfungsi hati. Pemakaian harus dihentikan jika muncul tanda-tanda klinis dan gejala yang konsisten dengan penyakit hati seperti mual, anoreksia, muntah, lelah, sakit perut atau urin berwarna gelap.
  • Berikan dengan hati-hati jika pasien menderita disfungsi ginjal.
  • Hentikan obat bila terjadi neuropati perifer.
  • Absorpsi berkurang pada penderia AIDS dan neutreopenia (periksa kadar dalam darah dan bila perlu dosis dapat dinaikkan).
  • Obat ini disekresi dalam air susu ibu dengan kadar yang hampir sama dengan kadar pada plasma. Oleh karena itu, penggunaan itraconazole oleh ibu menyusui tidak dianjurkan.
  • Penggunaan itraconazole bisa menyebabkan perpanjangan interval QT, yang dapat menyebabkan aritmia jantung yang serius. Oleh karena itu, harus hati-hati jika digunakan untuk pasien dengan faktor risiko seperti penyakit jantung struktural, dan kelainan elektrolit. Hal ini juga menjadi dasar penggunaan bersamaan dengan obat penyebab perpanjangan interval QT dikontraindikasikan.

Penggunaan oleh wanita hamil


FDA (badan pengawas obat dan makanan amerika serikat) mengkategorikan itraconazole kedalam kategori C dengan penjelasan sebagai berikut :

Penelitian pada reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin dan tidak ada studi yang memadai dan terkendali dengan baik pada manusia, namun jika potensi keuntungan dapat dijamin, penggunaan obat pada ibu hamil dapat dilakukan meskipun potensi resiko sangat besar.

Penelitian pada hewan memang tidak selalu bisa dijadikan dasar keamanan pemakaian obat terhadap wanita hamil. Namun fakta bahwa obat ini telah menunjukkan efek buruk pada janin hewan harus menjadi perhatian serius jika ingin menggunakan obat ini untuk wanita hamil. Disarankan hanya digunakan jika tidak ada pilihan lain yang lebih aman.

interaksi obat


Berikut adalah interaksi itraconazole dengan obat-obat lain :

  • Penggunaan bersamaan dengan obat-obat yang dimetabolisme melalui enzim CYP3A4 seperti metadon, disopiramid, dofetilide, dronedarone, quinidine, alkaloid ergot (seperti dihydroergotamine, ergometrine (ergonovin), ergotamine, metilergometrin (metilergonovin)), irinotecan, lurasidone, midazolam oral, pimozide, triazolam, felodipin , nisoldipin, ranolazine, eplerenone, cisapride, lovastatin, simvastatin, ticagrelor, colchicine, fesoterodine, telitromisin dan solifenacin berpotensi meningkatkan risiko cardiotoxicity (interval QT yang berkepanjangan, torsade de pointes) dan kematian jantung mendadak. Kombinasi ini adalah kontraindikasi.
  • Obat-obatan yang dapat menurunkan konsentrasi plasma itraconazole : Obat yang mengurangi keasaman lambung (antasida, antagonis reseptor H2 (cimetidine, ranitidine) dan inhibitor pompa proton seperti lansoprazole dan omeprazole).

Dosis itraconazole


Itraconazole diberikan dengan dosis sebagai berikut :

  • kandidiasis orofarings : 100 mg / hari. Pada penderita AIDS atau neutropenia dosis ditingkatkan menjadi 200 mg. obat diberikan selama 15 hari.
  • Vulvovaginitis kandida : 200 mg 2 x sehari. Obat diberikan selama 1 hari.
  • Ptyriasis versicolor (panu) : 200 mg / hari. Obat diberikan selama 7 hari.
  • Tinea korporis dan tinea kruris : 100 mg / hari. Obat diberikan selama 15 hari, atau 200 mg / hari selama 7 hari.
  • Tinea manus dan tinea pedis (kutu air) : 100 mg / hari. Obat diberikan selama 30 hari.
  • Onikomikosis : 200 mg / hari. Obat diberikan selama 3 bulan, atau bertahap 200 mg 2 x sehari selama 7 hari diulangi setelah interval 21 hari. Dua tahap untuk kuku jari tangan, tiga tahap untuk kuku jari kaki.
  • Histoplasmosis : 200 mg 1-2 x sehari.
  • Obat alternatif pada infeksi sistemik : 200 mg 1 x sehari (kandidiasis 100-200 mg / hari), untuk infeksi invasif atau diseminata dan meningitis kriptokokus sampai 200 mg 2 x sehari.
  • Terapi pemeliharaan pada pasien AIDS dan profilaksis pada neutropenia : 200 mg 1 x sehari. dosis digandakan bila kadar obat dalam darah rendah.
  • Dosis di atas adalah dosis dewasa. Pemberian pada anak-anak dan orang lanjut usia tidak dianjurkan.

Terkait