Naproxen

Naproxen adalah obat yang digunakan sebagai pereda nyeri (penghilang rasa sakit), penurun demam, anti radang, dan kekakuan sendi. Naproxen adalah derivat asam propionat yang termasuk nonsteroidal anti-inflammatory drug (NSAID). Naproxen bekerja dengan cara menghambat kerja enzim siklooksigenase (COX). Enzim ini berfungsi untuk membantu pembentukan prostaglandin saat terjadinya luka dan menyebabkan rasa sakit dan peradangan. Dengan menghalangi kerja enzim COX, prostaglandin lebih sedikit diproduksi, yang berarti rasa sakit dan peradangan akan mereda.

Naproxen adalah obat NSAID pilihan untuk penggunaan jangka panjang oleh pasien yang memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung atau stroke. Seperti NSAID lainnya, obat ini memiliki efek samping berupa ulcerasi saluran pencernaan. Efek samping pada saluran pencernaan ini lebih tinggi dibandingkan dengan ibuprofen tetapi lebih rendah daripada indometacin. Untuk mengatasi efek samping ini, biasanya naproxen dikombinasikan dengan obat-obat inhibitor pompa proton (seperti omeprazole atau lansoprazole) terutama untuk penggunaan jangka panjang pada pasien yang memiliki sakit maag, atau pasien dengan riwayat mengalami sakit maag akibat penggunaan obat-obat golongan NSAID.

golongan


Harus dengan resep dokter

kemasan


Naproxen biasanya dipasarkan dalam bentuk tablet 10 x 10 Naproxen natrium 500 mg.

Indikasi


Kegunaan Naproxen adalah untuk hal-hal berikut :

  • Mengurangi rasa sakit, penurun demam, mengurangi peradangan, dan kekakuan yang disebabkan oleh kondisi seperti migrain, osteoarthritis, batu ginjal, rheumatoid arthritis, psoriasis arthritis, gout, ankylosing spondylitis, kram menstruasi, tendinitis, dan bursitis.
  • Obat ini juga digunakan untuk mengobati dismenore primer.
  • Selain itu obat ini juga digunakan untuk keperluan diagnostik untuk membedakan antara demam menular dan neoplastik atau jaringan ikat terkait penyakit demam.

Kontra indikasi


  • Jangan menggunakan obat ini untuk pasien yang memiliki riwayat alergi terhadap  naproxen, aspirin atau NSAID lainnya (misalnya, ibuprofen, celecoxib).
  • Pasien yang akan atau telah menjalani operasi by-pass jantung (coronary artery bypass graft (CABG) sebaiknya jangan menggunakan obat ini.
  • Obat ini juga dikontraindikasikan untuk pasien yang memiliki masalah ginjal, hati, pasien yang menderita asma, urtikaria, atau radang / tukak pada lambung atau usus yang parah.
  • Seperti NSAID lainnya, naproxen sebaiknya tidak digunakan pada masa akhir kehamilan karena dapat menyebabkan penutupan dini duktus arteriosus.

Efek Samping naproxen


Berikut adalah beberapa efek samping naproxen yang mungkin terjadi :

  • Seperti NSAID lainnya, efek samping naproxen diantaranya adalah meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular seperti peripheral edema, congestive heart failure (CHF), jantung berdebar, vaskulitis, tachycardia, dyspnoea, serangan jantung, dan stroke. Namun secara keseluruhan, obat ini memiliki efek samping kardiovaskular paling kecil dibandingkan NSAID lainnya.
  • Obat-obat golongan NSAID menyebabkan gangguan pada saluran gastrointestinal (pencernaan) misalnya : perdarahan, ulserasi, dan perforasi lambung atau usus yang bisa berakibat fatal. Jika pemakaian dalam dosis tinggi atau untuk waktu yang lama, merokok, atau minum alkohol, meski digunakan bersama makanan tidak akan mengurangi efek samping ini.
  • Gangguan berat pada organ hati seperti penyakit kuning dan hepatitis, juga dilaporkan terjadi akibat pemakaian obat-obat NSAID. Jika tes hati yang abnormal menetap atau memburuk, jika tanda-tanda dan gejala yang konsisten dengan penyakit hati klinis terjadi, atau jika manifestasi sistemik terjadi (misalnya : eosinofilia, ruam, dan lain – lain), pemakaian naproxen harus dihentikan.
  • Efek samping pada sistem saraf pusat diantaranya sakit kepala, mengantuk, vertigo, pusing, ketidakmampuan untuk berkonsentrasi, depresi mental, gugup, lekas marah, kelelahan, malaise, insomnia, gangguan tidur, kelainan mimpi, dan aseptik meningitis.
  • Efek samping pada sistem indra : gangguan pendengaran (tinnitus) dan gangguan visual.
  • Anemia juga dilaporkan terjadi pada pasien yang menggunakan NSAID. Pasien pada pengobatan jangka panjang, kadar hemoglobin dan hematokrit harus diperiksa jika mereka menunjukkan tanda-tanda gejala anemia.
  • Reaksi dermatologis seperti dermatitis eksfoliatif, sindrom Stevens-Johnson, dan nekrolisis epidermal toksik, yang dapat berakibat fatal, dapat terjadi selama pemakaian NSAID. Pengobatan harus dihentikan jika tanda-tanda seperti ruam atau hipersensitivitas muncul.

Perhatian


Hal-hal yang perlu diperhatikan pasien selama menggunakan obat ini adalah sebagai berikut :

  • Naproxen sebaiknya digunakan setelah makan atau bersama makanan. Pasien yang memiliki riwayat ulkus atau penyakit inflamasi usus harus berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan obat ini.
  • Meskipun efek samping kardiovaskular naproxen lebih kecil dibandingkan NSAID lainnya, pasien dengan riwayat penyakit kardiovaskular, atau berisiko tinggi harus hati-hati menggunakan obat ini.
  • NSAID, termasuk naproxen dapat menyebabkan timbulnya hipertensi baru atau memperburuk hipertensi yang sudah ada sebelumnya. Tekanan darah harus dipantau selama pengobatan.
  • Karena NSAID dapat menyebabkan retensi cairan dan edema, perhatian harus diberikan pada pasien dengan gagal jantung atau yang sudah pernah mengalami retensi cairan.
  • Pasien harus cukup terhidrasi (cukup cairan) sebelum menggunakan naproxen.
  • Naproxen dapat menyebabkan pusing atau mengantuk, yang akan lebih buruk jika pasien juga mengkonsumsi alkohol. Jangan mengemudi atau menyalakan mesin selama pemakaian obat ini.
  • Penggunaan pada pasien lanjut usia harus lebih hati-hati karena mereka lebih sensitif terhadap efek obat ini, terutama perdarahan perut dan masalah ginjal. Penyesuaian dosis untuk pasien lanjut usia mungkin diperlukan.
  • Naproxen ditemukan dalam ASI. Jangan menyusui saat menggunakan obat ini.

Penggunaan oleh wanita hamil


FDA (badan pengawas obat dan makanan amerika serikat) mengkategorikan Naproxen kedalam kategori C dengan penjelasan sebagai berikut :

Penelitian pada reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin dan tidak ada studi yang memadai dan terkendali dengan baik pada manusia, namun jika potensi keuntungan dapat dijamin, penggunaan obat pada ibu hamil dapat dilakukan meskipun potensi resiko sangat besar.

Pada trimester 3 atau menjelang kelahiran, obat ini dikategorikan ke dalam kategori D :

Terbukti beresiko terhadap janin manusia berdasarkan bukti-bukti empiris yang didapatkan dari investigasi, pengalaman marketing maupun  studi terhadap manusia . namun jika benefit yang diperoleh dipandang lebih tinggi dari resiko yang mungkin terjadi, obat ini bisa diberikan.

Seperti NSAID lainnya, naproxen sebaiknya tidak digunakan pada masa akhir kehamilan karena dapat menyebabkan penutupan dini duktus arteriosus.

interaksi obat


Berikut adalah interaksi naproxen dengan obat-obat lain jika digunakan secara bersamaan :

  • Resiko perdarahan lambung meningkat jika digunakan bersamaan dengan antikoagulan (misalnya, warfarin), aspirin, kortikosteroid (misalnya prednisone), heparin, atau selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) (misalnya, fluoxetine).
  • Konsentrasi plasma meningkat jika digunakan bersamaan dengan Magnesium hidroksida (misalnya, antasida) atau probenesid.
  • Meningkatkan toksisitas siklosporin, lithium, methotrexate, kuinolon (misalnya, ciprofloxacin), atau sulfonilurea (misalnya, glipizide).
  • Menurunkan efektivitas Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor  (misalnya, enalapril) atau diuretik (misalnya, furosemide, hydrochlorothiazide).
  • Mengganggu dan mengurangi efektivitas antidepresan selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) (misalnya, fluoxetine).
  • Mengganggu efek antihipertensi dari β-blocker (misalnya propranolol).
  • meningkatkan kadar serum probenesid.

Dosis naproxen


Naproxen diberikan dengan dosis berikut :

  • Dismenorea dan gangguan muskuloskeletal akut

Dewasa : dosis awal 500 mg dilanjutkan dengan 250 mg setiap 6-8.

Dosis maksimal : 1.250 mg pada hari 1 dan 1.000 mg setelahnya.

  • Gangguan rematik

Dewasa : 1-2 x sehari 0.5-1 g.

  • Juvenile idiopathic arthritis

Anak usia > 5 tahun : 10 mg / kg BB / hari dibagi dalam 2 dosis. Obat diberikan setiap 12 jam.

  • Gout akut

Dewasa : dosis awal 750 mg dilanjutkan dengan 250 mg setiap 8 jam.

Terkait


Jika informasi ini berguna, bagikan ke teman – teman anda