abaktal

Ini adalah review terhadap obat dengan merk abaktal. di bagian akhir review ini juga disertakan tautan untuk mengetahui merk obat-obat lain dengan kandungan yang sama dengan abaktal.

pabrik  


lek, phapros

golongan


obat keras

kemasan  


botol 10 tablet

kandungan


Pefloxacin 400 mg

Sekilas tentang zat aktif (nama generik)


 pefloksasina (Pefloxacin) adalah antibiotik golongan kuinolon yang mempunyai spektrum luas, aktif terhadap bakteri gram negatif maupun gram positif. pefloksasina (Pefloxacin) bekerja dengan cara menghambat dua tipe enzim II topoisomerase yaitu DNA Gyrase dan topoisomerase IV. topoisomerase IV memerlukan DNA terpisah yang telah direplikasi sebelum pembelahan sel bakteri. Dengan DNA yang tidak dipisahkan, proses terhenti dan bakteri tidak bisa membagi. Sedangkan DNA gyrase bertanggungjawab untuk supercoil DNA sehingga akan cocok di dalam sel yang baru terbentuk. kombinasi dari dua mekanisme di atas akan membunuh bakteri sehingga pefloksasina (Pefloxacin) digolongkan sebagai bakterisida.

Indikasi abaktal


  • abaktal (Pefloxacin) digunakan untuk infeksi gastrointestinal
  • infeksi saluran kemih : uretritis gonokokal tidak terkomplikasi pada pria, gonorrhoeae (meski pemakaian abaktal (Pefloxacin) mulai ditinggalkan karena adanya resistensi).
  • abaktal (Pefloxacin) juga digunakan untuk infeksi saluran nafas, THT, kulit dan jaringan lunak serta pengobatan dan pencegahan pada infeksi bedah.

kontra indikasi 


  • abaktal (Pefloxacin) harus dihindari pada pasien dengan hipersensitivitas terhadap abaktal (Pefloxacin) atau antibiotik golongan kuinolon lainnya,
  • wanita hamil dan ibu menyusui
  • abaktal (Pefloxacin) juga kontra indikasi pada pasien dengan epilepsi atau gangguan kejang lainnya
  • defisiensi glukosa 6 – fosfat dehidrogenase.

Efek Samping abaktal


Kebanyakan efek samping abaktal (Pefloxacin) bersifat ringan sampai sedang yang akan segera hilang ketika pemberian obat dihentikan. Namun, efek samping serius kadang terjadi.

  • Efek samping yang paling umum seperti mual, muntah, diare , sakit kepala, susah tidur dan ruam pada kulit.
  • abaktal (Pefloxacin) juga meningkatkan risiko tendonitis dan tendon pecah (paling tinggi di antara antibiotika kuinolon lain) , terutama pada pasien > 60 tahun , pasien yang juga menggunakan kortikosteroid , dan pasien dengan transplantasi ginjal , paru-paru , atau jantung.
  • abaktal (Pefloxacin) seperti fluoroquinolones lain, diketahui juga memicu kejang atau menurunkan ambang kejang, dan dapat menyebabkan efek samping terhadap sistem saraf pusat lainnya.
  • Sakit kepala, pusing, dan insomnia juga dilaporkan cukup sering terjadi.
  • kejadian yang jauh lebih jarang seperti tremor, psikosis, kecemasan, halusinasi, paranoia, dan percobaan bunuh diri, terutama pada dosis yang lebih tinggi.
  • Berbagai efek samping yang sangat jarang namun berpotensi fatal seperti nekrolisis epidermal toksik, sindrom Stevens-Johnson, aritmia jantung (torsades des pointes atau perpanjangan QT)
  • pneumonitis alergi, penekanan sumsum tulang, hepatitis atau gagal hati, dan phototoxicity / fotosensitifitas.
  • Obat harus dihentikan jika ruam, sakit kuning, atau tanda lain dari hypersentitivity terjadi.

perhatian  


  • Hati-hati pada pasien dengan penyakit hati karena ekskresi abaktal (Pefloxacin) dapat berkurang pada pasien dengan gangguan fungsi hati yang berat ( misalnya , sirosis dengan atau tanpa asites ).
  • efektivitas dan keamanan pemakaian pada anak-anak, wanita hamil dan menyusui belum terbukti.
  • Saat menggunakan abaktal (Pefloxacin) usahakan pasien mendapatkan hidrasi yang baik.

Toleransi terhadap kehamilan


penelitian pada reproduksi hewan menunjukkan pefloksasina (Pefloxacin) memberikan efek buruk pada janin. Tidak ada studi yang memadai dan terkendali dengan baik pada manusia , tetapi jika manfaat potensial terhadap ibu lebih besar daripada risiko pada janin maka obat ini bisa diberikan.

interaksi obat 


  • abaktal (Pefloxacin), seperti beberapa fluoroquinolones lainnya, dapat menghambat kerja enzim dalam metabolisme obat sehingga meningkatkan kadar obat-obat seperti siklosporin, theophyline, dan warfarin. jika level obat darah meningkat maka dapat menyebabkan efek samping lebih besar.
  • Pemantauan serum glukosa hati dianjurkan bila abaktal (Pefloxacin) digunakan oleh pasien yang menggunakan obat anti-diabetes golongan sulfonylurea.
  • Pemberian abaktal (Pefloxacin) bersamaan dengan obat anti-inflamasi non-steroid (NSAID) dapat meningkatkan risiko stimulasi sistem saraf pusat dan kejang kejang.
  • Fluoroquinolones telah terbukti meningkatkan efek antikoagulan dari acenocoumarol, Anisindione, dan Dicumarol.
  • Selain itu ada peningkatan risiko cardiotoxicity dan aritmia ketika diberikan bersamaan dengan obat-obatan seperti Dihydroquinidine barbiturat, Quinidine, dan Quinidine barbiturat.
  • Pemakaian kortikosteroid oral bisa meningkatkan risiko otot tendon pecah, terutama pada pasien usia lanjut.

Dosis abaktal


abaktal (Pefloxacin) diberikan dengan dosis : 2 x sehari 400 mg

Terkait


Merk – merk obat dengan kandungan pefloksasina (Pefloxacin)

Mek – merk obat yang termasuk antibiotik golongan kuinolon