Fartolin 2 mg Tablet

Fartolin adalah obat yang digunakan untuk mengobati penyakit pada saluran pernafasan seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Fartolin termasuk obat golongan agonis adrenoreseptor beta-2 selektif kerja pendek (short acting beta-adrenergic receptor agonist).

Berikut ini adalah informasi lengkap fartolin yang disertai tautan merk-merk obat lain dengan nama generik yang sama.

pabrik


Fahrenheit

golongan


Harus dengan resep dokter

kemasan


fartolin dipasarkan dengan kemasan sebagai berikut :

  • Dos 10 x 10 tablet 2 mg

kandungan


tiap kemasan fartolin mengandung zat aktif (nama generik) sebagai berikut :

  • Salbutamol sulfat 2 mg / tablet

Sekilas tentang zat aktif (nama generik)


Salbutamol adalah obat yang digunakan untuk menghilangkan bronkospasme seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Salbutamol adalah obat sistem saluran nafas yang termasuk golongan agonis adrenoreseptor beta-2 selektif kerja pendek (short acting beta-adrenergic receptor agonist). Obat ini bekerja dengan cara merangsang secara selektif reseptor beta-2 adrenergik terutama pada otot bronkus. hal ini menyebabkan terjadinya bronkodilatasi karena otot bronkus mengalami relaksasi.

Indikasi


Kegunaan fartolin (salbutamol) adalah untuk pengobatan kondisi-kondisi berikut :

  • Fartolin (salbutamol) umumnya digunakan untuk mengobati bronkospasme (misalnya penyakit asma karena alergi tertentu, asma bronkial, bronkitis asmatis, emfisema pulmonum), dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
  • Obat ini bisa digunakan untuk mengobati hiperkalemia akut karena kemampuannya merangsang aliran kalium ke dalam sel sehingga konsentrasi kalium dalam darah berkurang.
  • Untuk pengobatan kejang bronkus pada pasien yang memiliki penyakit jantung atau tekanan darah tinggi, fartolin (salbutamol) lebih dipilih karena bekerja lebih lama dan lebih aman, dibanding beta-2 adrenergic lainnya.

Kontra indikasi


  • Jangan menggunakan obat ini untuk pasien yang memiliki riwayat hipersensitif pada salbutamol atau obat agonis adrenoreseptor beta-2 lainnya.

Efek samping


Secara umum obat ini bisa ditoleransi dengan baik. Berikut adalah beberapa efek samping fartolin (salbutamol) yang mungkin terjadi :

  • Efek samping yang umum adalah palpitasi, nyeri dada, denyut jantung cepat, tremor terutama pada tangan, kram otot, sakit kepala dan gugup.
  • Efek samping lain yang sering terjadi diantaranya : vasodilatasi perifer, takikardi, aritmia, ganguan tidur dan gangguan tingkah laku.
  • Efek samping yang lebih berat tetapi kejadiannya jarang misalnya bronkospasme paradoksikal, urtikaria, angiodema, dan hipotensi.
  • Seperti agonis adrenoseptor beta-2 lainnya, fartolin (salbutamol) juga bisa menyebabkan hipokalemia terutama jika diberikan pada dosis tinggi.
  • Penggunaan dosis tinggi telah dilaporkan memperburuk diabetes mellitus dan ketoasidosis.

Perhatian


hal-hal yang perlu diperhatikan pasien jika menggunakan fartolin (salbutamol) adalah sebagai berikut :

  • Hentikan pemakaian dengan segera jika anda mengalami reaksi alergi, seperti ruam, gatal, sakit tenggorokan, demam, arthralgia, pucat, atau tanda-tanda lainnya, karena bisa berakibat yang lebih fatal.
  • Obat ini bisa menyebabkan bronkospasme paradoks yang bisa mengancam nyawa. Jika bronkospasme terjadi segera hentikan pemakaian obat dan hubungi dokter.
  • Pada dosis tinggi atau penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan hipokalemia, terutama pada pasien dengan gagal ginjal dan orang-orang yang sedang menggunakan obat diuretik tertentu atau obat turunan xanthine.
  • Seperti semua amina simpatomimetik, obat ini harus digunakan secara hati-hati pada pasien dengan gangguan kardiovaskular terutama insufisiensi koroner, aritmia jantung, dan hipertensi.
  • Pasien dengan hipertiroidisme juga harus hati-hati menggunakan obat ini.
  • Seperti obat-obat agonis adrenoseptor beta-2 obat ini harus digunakan dengan hati-hati pada penderita diabetes melitus karena beresiko terjadinya ketoasidosis. Pemantauan kadar glukosa darah perlu dilakukan.
  • Belum diketahui apakah salbutamol diekskresikan dalam air susu ibu. Pada studi hewan obat ini telah diketahui memiliki potensi tumorigenicity sehingga sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan obat pilihan yang lebih aman atau diberikan dengan jarak yang cukup antara menyusui dan penggunaan obat.
  • Keamanan dan efektivitas pada pasien usia 4 tahun atau kurang belum diketahui.

Penggunaan oleh ibu hamil


FDA (badan pengawas obat dan makanan amerika serikat) mengkategorikan salbutamol kedalam kategori C dengan penjelasan sebagai berikut :

Penelitian pada reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin dan tidak ada studi yang memadai dan terkendali dengan baik pada manusia, namun jika potensi keuntungan dapat dijamin, penggunaan obat pada ibu hamil dapat dilakukan meskipun potensi resiko sangat besar.

Penelitian pada hewan memang tidak selalu bisa digunakan sebagai acuan keamanan obat oleh manusia. Namun efek buruk obat ini pada janin hewan harus menjadi perhatian serius jika ingin menggunakan obat ini pada wanita hamil.

Penggunaan salbutamol oleh ibu hamil hanya untuk tujuan tertentu misalnya mencegah kelahiran prematur bilamana manfaat yang diperoleh lebih besar daripada resiko yang mungkin terjadi.

interaksi obat


Berikut adalah interaksi obat-obat dengan kandungan zat aktif salbutamol dengan obat-obat lain :

  • Pemberian bersamaan dengan bronkodilatator simpatomimetik kerja pendek lain tidak boleh dilakukan karena bisa memberikan efek yang sangat buruk pada sistem kardiovaskular.
  • Obat-obat beta-2 antagonis menghambat kerja fartolin (salbutamol).
  • Obat-obat golongan beta-blocker non-selektif seperti propranolol, tidak bisa diberikan bersamaan dengan fartolin (salbutamol), karena obat beta bloker sering menyebabkan bronkospasme parah pada pasien asma.
  • Monoamine oksidase inhibitor atau antidepresan trisiklik dapat memperkuat efek fartolin (salbutamol) pada sistem kardiovaskular. Diantaranya bisa memicu hipertensi berat.
  • Bila diberikan bersama atomoksetin, resiko efek samping pada sistem kardiovaskular meningkat.
  • fartolin (salbutamol) dapat menurunkan konsentrasi digoksin dalam plasma.
  • Pemberian bersamaan dengan metildiopa dapat menyebabkan hipotensi akut.

Dosis fartolin


Fartolin (salbutamol) diberikan dengan dosis sebagai berikut :

  • Dewasa dan anak > 12 tahun : dosis awal 3-4 x sehari 2-4 mg. dosis dapat dinaikkan secara bertahap sampai maksimum 4 x sehari 8 mg. dosis maksimal harian : 32 mg /hari (dalam dosis bagi).
  • Anak 6-12 tahun : 3 x sehari 2 mg. dosis dapat dinaikkan secara bertahap sampai dosis maksimal harian : 24 mg /hari (dalam dosis bagi).
  • Anak 2-6 tahun : 3 x sehari 1 mg.
  • Pasien usia lanjut atau pasien yang sensitif terhadap stimulan beta adrenergik : dosis awal : 3-4 x sehari 2 mg. dosis dapat dinaikkan secara bertahap sampai maksimum 4 x sehari 8 mg.
  • dosis lazim salbutamol klik di sini.

Terkait