Salbutamol

Salbutamol adalah obat yang digunakan untuk menghilangkan bronkospasme seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Salbutamol adalah obat sistem saluran nafas yang termasuk golongan agonis adrenoreseptor beta-2 selektif kerja pendek (short acting beta-adrenergic receptor agonist). Obat ini bekerja dengan cara merangsang secara selektif reseptor beta-2 adrenergik terutama pada otot bronkus. hal ini menyebabkan terjadinya bronkodilatasi karena otot bronkus mengalami relaksasi.

Obat ini biasanya dipasarkan dalam bentuk salbutamol sulfat dengan kadar 2 mg / tablet, 4 mg / tablet, 2 mg / 5 ml sirup, dan 0.5 mg / ml injeksi. Juga tersedia dalam sediaan inhalasi aerosol atau inhalasi nebulizer.

Indikasi


Kegunaan salbutamol adalah untuk pengobatan kondisi-kondisi berikut :

  • Salbutamol umumnya digunakan untuk mengobati bronkospasme (misalnya penyakit asma karena alergi tertentu), dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
  • Seperti beta-2-agonis lainnya, obat ini juga digunakan dalam bidang kebidanan yang berfungsi sebagai tokolitik. Pemberian obat dilakukan secara intravena untuk tujuan mencegah kelahiran prematur.
  • Obat ini bisa digunakan untuk mengobati hiperkalemia akut karena kemampuannya merangsang aliran kalium ke dalam sel sehingga konsentrasi kalium dalam darah berkurang.
  • Untuk pengobatan kejang bronkus pada pasien yang memiliki penyakit jantung atau tekanan darah tinggi, salbutamol lebih dipilih karena bekerja lebih lama dan lebih aman, dibanding beta-2 adrenergic lainnya.

Kontra indikasi


  • Jangan menggunakan obat ini untuk pasien yang memiliki riwayat hipersensitif pada salbutamol atau obat agonis adrenoreseptor beta-2 lainnya.

Efek samping salbutamol


Secara umum obat ini bisa ditoleransi dengan baik. Berikut adalah beberapa efek samping salbutamol yang mungkin terjadi :

  • Efek samping yang umum adalah palpitasi, nyeri dada, denyut jantung cepat, tremor terutama pada tangan, kram otot, sakit kepala dan gugup.
  • Efek samping lain yang sering terjadi diantaranya : vasodilatasi perifer, takikardi, aritmia, ganguan tidur dan gangguan tingkah laku.
  • Efek samping yang lebih berat tetapi kejadiannya jarang misalnya bronkospasme paradoksikal, urtikaria, angiodema, dan hipotensi.
  • Seperti agonis adrenoseptor beta-2 lainnya, salbutamol juga bisa menyebabkan hipokalemia terutama jika diberikan pada dosis tinggi.
  • Penggunaan dosis tinggi telah dilaporkan memperburuk diabetes mellitus dan ketoasidosis.
  • Pada pemberian secara intramuskular, sering menyebabkan nyeri di lokasi suntikan.

Perhatian


hal-hal yang perlu diperhatikan pasien jika menggunakan salbutamol adalah sebagai berikut :

  • Hentikan pemakaian dengan segera jika anda mengalami reaksi alergi, seperti ruam, gatal, sakit tenggorokan, demam, arthralgia, pucat, atau tanda-tanda lainnya, karena bisa berakibat yang lebih fatal.
  • Obat ini bisa menyebabkan bronkospasme paradoks yang bisa mengancam nyawa. Jika bronkospasme terjadi segera hentikan pemakaian obat dan hubungi dokter.
  • Pada dosis tinggi atau penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan hipokalemia, terutama pada pasien dengan gagal ginjal dan orang-orang yang sedang menggunakan obat diuretik tertentu atau obat turunan xanthine.
  • Seperti semua amina simpatomimetik, obat ini harus digunakan secara hati-hati pada pasien dengan gangguan kardiovaskular terutama insufisiensi koroner, aritmia jantung, dan hipertensi.
  • Pasien dengan hipertiroidisme juga harus hati-hati menggunakan obat ini.
  • Jika digunakan dalam dosis tinggi selama kehamilan, obat ini harus diberikan secara inhalasi, karena penggunaan secara parenteral dapat mempengaruhi miometrium dan mungkin menyebabkan masalah jantung.
  • Seperti obat-obat agonis adrenoseptor beta-2 obat ini harus digunakan dengan hati-hati pada penderita diabetes melitus karena beresiko terjadinya ketoasidosis terutama pada pemakaian secara intravena. Pemantauan kadar glukosa darah perlu dilakukan.
  • Belum diketahui apakah salbutamol diekskresikan dalam air susu ibu. Pada studi hewan obat ini telah diketahui memiliki potensi tumorigenicity sehingga sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan obat pilihan yang lebih aman atau diberikan dengan jarak yang cukup antara menyusui dan penggunaan obat.
  • Keamanan dan efektivitas pada pasien usia 4 tahun atau kurang belum diketahui.

Penggunaan salbutamol oleh ibu hamil


FDA (badan pengawas obat dan makanan amerika serikat) mengkategorikan salbutamol kedalam kategori C dengan penjelasan sebagai berikut :

Penelitian pada reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin dan tidak ada studi yang memadai dan terkendali dengan baik pada manusia, namun jika potensi keuntungan dapat dijamin, penggunaan obat pada ibu hamil dapat dilakukan meskipun potensi resiko sangat besar.

Penelitian pada hewan memang tidak selalu bisa digunakan sebagai acuan keamanan obat oleh manusia. Namun efek buruk obat ini pada janin hewan harus menjadi perhatian serius jika ingin menggunakan obat ini pada wanita hamil.

Penggunaan salbutamol oleh ibu hamil hanya untuk tujuan tertentu misalnya mencegah kelahiran prematur bilamana manfaat yang diperoleh lebih besar daripada resiko yang mungkin terjadi.

interaksi obat


Berikut adalah interaksi dengan obat-obat lain :

  • Pemberian bersamaan dengan bronkodilatator simpatomimetik kerja pendek lain tidak boleh dilakukan karena bisa memberikan efek yang sangat buruk pada sistem kardiovaskular.
  • Obat-obat beta-2 antagonis menghambat kerja salbutamol.
  • Obat-obat golongan beta-blocker non-selektif seperti propranolol, tidak bisa diberikan bersamaan dengan salbutamol, karena obat beta bloker sering menyebabkan bronkospasme parah pada pasien asma.
  • Monoamine oksidase inhibitor atau antidepresan trisiklik dapat memperkuat efek salbutamol pada sistem kardiovaskular. Diantaranya bisa memicu hipertensi berat.
  • Bila diberikan bersama atomoksetin, resiko efek samping pada sistem kardiovaskular meningkat.
  • salbutamol dapat menurunkan konsentrasi digoksin dalam plasma.
  • Pemberian bersamaan dengan metildiopa dapat menyebabkan hipotensi akut.

Dosis salbutamol


Salbutamol diberikan dengan dosis sebagai berikut :

  • Oral :

Dewasa : 4 mg 3-4 x sehari, dosis tunggal, maksimal 8 mg.

anak usia < 2 tahun : 200 mcg / kg BB, 4 x sehari.

usia 2- 6 tahun : 1-2 mg 3-4 x sehari, 6-12 tahun 2 mg.

lansia dan pasien yang sensitif : dosis awal 2 mg.

  • Injeksi subkutan atau intramuskular :

500 mcg diulang tiap 4 jam bila perlu.

  • Infus intravena lambat :

250 mcg, diulang bila perlu.

  • Infus intravena :

awal 5 mcg / menit, kemudian dosis disesuaikan dengan respons dan denyut jantung, umumnya antara 3-20 mcg / menit, atau lebih bila perlu.

  • Inhalasi aerosol :

Dewasa : 100-200 mcg (1-2 hirupan). Untuk gejala yang persisten 3-4 x sehari.

Anak : 100 mcg (1 hirupan) dapat dinaikkan menjadi 200 mcg (2 hirupan) bila perlu.

Profilaksis untuk bronkospasme akibat latihan fisik : dewasa : 200 mcg (2 hirupan), anak : 100 mcg (1 hirupan).

  • Inhalasi nebuliser :

bronkospasme kronis yang tidak memberikan respons terhadap terapi konvensional dan untuk asma akut yang berat : Dewasa dan anak > 18 bulan 2.5 mg, diberikan sampai 4 x sehari, atau 5 x bila perlu, tetapi perlu segera dipantau hasilnya, karena mungkin diperlukan alternatif terapi lain. Efektivitas untuk anak < 18 bulan masih diragukan.

Terkait