betamethasone

Betamethasone adalah obat steroid jenis glukokortikoid yang digunakan untuk pengobatan sejumlah penyakit termasuk gangguan rematik, penyakit kulit, kondisi alergi, persalinan prematur untuk mempercepat pengembangan bayi, penyakit Crohn, bahkan kanker seperti leukemia.

Betamethasone bekerja dengan cara mencegah dan mengendalikan peradangan (inflamasi) dengan mengendalikan laju sintesis protein, menekan migrasi leukosit polimorfonuklear dan fibroblast, dan membalikkan permeabilitas kapiler dan stabilisasi lisosom.

Sama seperti dexamethasone, betamethasone mempunyai aktivitas glukokortikoid yang sangat tinggi sedangkan aktivitas mineralokortikoidnya sangat rendah. Hal ini membuat kedua obat ini cocok digunakan untuk kondisi yang memerlukan kortikosteroid dosis tinggi yang tidak disertai retensi cairan yang membahayakan.

Beberapa bentuk ester betamethasone mempunyai efek topikal pada kulit dan paru-paru yang lebih signifikan dibandingkan diberikan secara oral. Sehingga bentuk ester tersebut lebih dipilih untuk penggunaan secara topikal agar kemungkinan efek samping sistemik minimal.

Betamethasone tersedia dalam beberapa bentuk senyawa, diantaranya betamethasone dipropionat, natrium fosfat dan valerat. Obat ini bisa juga digunakan secara kombinasi dengan clotrimazole, asam salisilat, dan kombinasi 3 obat dengan clotrimazole dan gentamicin. Kombinasi-kombinasi ini digunakan untuk mengatasi gangguan pada kulit seperti dermatitis dan psoriasis.

golongan


Harus dengan resep dokter

Indikasi


Kegunaan betamethasone adalah untuk pengobatan kondisi-kondisi berikut :

  • Betamethasone natrium fosfat digunakan secara oral dan melalui injeksi dengan indikasi yang sama seperti steroid lainnya.
  • Betamethasone ester valerat, terbukti mengurangi beberapa gejala ataksia terkait dengan Ataxia telangiectasia.
  • Betamethasone juga digunakan untuk persalinan bayi prematur untuk membantu pengembangan paru.
  • Kortikosteroid seperti betamethasone juga digunakan untuk mengobati phimosis (kulup ketat) pada laki-laki.
  • Pengendalian kondisi alergi yang parah seperti asma, angioedema, dermatitis atopik, dermatitis kontak, reaksi hipersensitivitas obat, dan rhinitis alergi.
  • Penyakit kulit seperti dermatitis dan psoriasis, sebagai krim topikal untuk meringankan iritasi kulit, seperti gatal-gatal dan mengelupas dari eksim, penyakit Bullous dermatitis herpetiformis, eksfoliatif eritroderma, mikosis fungoides, pemfigus, eritema multiforme (sindrom Stevens-Johnson). Obat ini juga digunakan sebagai untuk psoriasis lokal, dalam bentuk betamethasone dipropionat dan asam salisilat, atau sebagai kombinasi dengan kalsipotriol.
  • Gangguan endokrin : hiperplasia adrenal kongenital, hiperkalsemia yang terkait dengan kanker, tiroiditis non supuratif.
  • Hematologi : Acquired (autoimun) anemia hemolitik, Diamond-Blackfan anemia, aplasia sel darah merah murni.
  • Neoplastik : Untuk manajemen paliatif pada leukemia dan limfoma.
  • Sistem saraf : eksaserbasi akut multiple sclerosis, edema serebral terkait dengan tumor otak primer atau metastasis atau kraniotomi.
  • Mata : Penyakit Oftalmia simpatis, arteritis temporal, uveitis dan kondisi peradangan mata yang tidak responsif terhadap kortikosteroid topikal.
  • Penyakit ginjal : Untuk menginduksi diuresis atau remisi proteinuria pada sindrom nefrotik idiopatik atau yang disebabkan lupus eritematosus.
  • Penyakit pada saluran pernafasan : Berylliosis, TBC paru-paru fulminan, pneumonia eosinofilik idiopatik, sarkoidosis simptomatik.
  • Gangguan rematik : Sebagai tambahan untuk terapi jangka pendek arthritis gout (asam urat) akut, karditis rematik akut, ankylosing spondylitis, psoriatic arthritis, dan rheumatoid arthritis.
  • Untuk pengobatan dermatomiositis, polymyositis, dan lupus eritematosus sistemik.
  • Bersama dengan fludrocortisone untuk insufisiensi adrenocortical.

Kontra indikasi


  • jangan digunakan untuk pasien yang memiliki riwayat hipersensitif pada betamethasone dan obat golongan kortikosteroid lainnya.
  • Kortikosteroid intramuskular kontraindikasi untuk thrombocytopenic purpura idiopatik.
  • Pemberian vaksin hidup atau dilemahkan merupakan kontraindikasi pada pasien yang menggunakan dosis imunosupresif dari obat-obat kortikosteroid.
  • Kortikosteroid dosis tinggi, tidak boleh digunakan untuk pengobatan cedera otak traumatis yang berhubungan dengan mata. Penggunaan kortikosteroid dapat menyebabkan katarak subkapsular posterior, glaukoma dengan kemungkinan kerusakan pada saraf optik, dan dapat meningkatkan pembentukan infeksi okular sekunder karena bakteri, jamur, atau virus.
  • Penggunaan kortikosteroid oral tidak dianjurkan dalam pengobatan optik neuritis dan dapat menyebabkan peningkatan risiko episode baru.
  • Kortikosteroid tidak boleh digunakan dalam aktif okular herpes simpleks.

Efek samping


Berikut adalah beberapa efek samping betamethasone yang mungkin terjadi :

  • Obat-obat glukokortikoid termasuk betamethasone, meningkatkan pembentukan glukosa dari protein. Hal ini menyebabkan peningkatan kadar gula dalam darah sehingga pemberian obat ini pada penderita diabetes mellitus sebaiknya dihindari.
  • Penggunaan protein dalam proses pembentukan glukosa, juga menyebabkan pengeroposan tulang karena matriks protein penyusun tulang menyusut drastis. Oleh karena itu penggunaan obat ini pada pasien yang memiliki resiko besar seperti usia lanjut sangat tidak dianjurkan. Untuk anak-anak hal ini dapat menghambat pertumbuhan, khususnya pertumbuhan tulang. Selain itu penggunaan kortikosteroid pada anak-anak dapat menghambat pertumbuhan dan dapat mempengaruhi perkembangan pubertas. Bila benar-benar dibutuhkan sebaiknya gunakan dosis terkecil.
  • Seperti glukokortikoid lainnya, juga mempengaruhi proses metabolisme lemak termasuk distribusinya di dalam tubuh.
  • Obat ini juga bisa menyebabkan berkurangnya massa otot (proximal myopathy).
  • Obat ini menurunkan fungsi limfa yang mengakibatkan sel limfosit berkurang dan mengecil. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya penurunan sistem kekebalan tubuh akibat pemakaian betamethasone, sehingga meningkatkan resiko terkena infeksi virus, jamur ataupun bakteri.
  • Secara umum kumpulan-kumpulan efek samping ini dikenal sebagai Cushing sindrom, yaitu gejala-gejala seperti muka tembem, penebalan seperti selulit pada punggung dan perut, hipertensi, penurunan toleransi terhadap karbohidrat dan gejala-gejala lainnya. Cushing sindrom dapat pulih (reversibel) bila terapi dihentikan, tetapi cara menghentikan terapi harus dengan menurunkan dosis secara bertahap (tappering-off) untuk menghindari terjadinya insufisiensi adrenal akut.
  • Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan insufisiensi adrenal.
  • Pasien dengan riwayat gangguan jiwa, dapat mengalami gangguan mental yang serius, paranoid atau depresi dengan risiko bunuh diri. Pengawasan yang ketat diperlukan. Bila perlu dihindari.
  • Obat-obat kortikosteroid bisa menyebabkan timbulnya tukak peptik meskipun lemah.
  • Sediaan betamethasone cream/Krim biasanya menyebabkan iritasi kulit, misalnya gatal, terbakar, menyengat. Bisa juga menyebabkan penipisan kulit, perubahan pigmentasi kulit dan warna, stretch mark, pengelompokan pembuluh darah halus menjadi menonjol di bawah kulit, dan pertumbuhan bulu/rambut yang berlebihan.

Perhatian


Hal-hal yang harus diperhatikan saat menggunakan betamethasone, sebagai berikut :

  • Penderita gangguan pencernaan seperti tukak lambung dan kolitis ulceratif sebaiknya hati-hati jika menggunakan betamethasone, karena beresiko terjadinya perdarahan pada saluran pencernaan.
  • Pasien yang memiliki gangguan fungsi hati dan ginjal misalnya pasien usia lanjut, betamethasone diberikan dengan dosis terendah dan durasi sesingkat mungkin.
  • Jangan menghentikan pemakaian obat ini secara tiba-tiba tanpa sepengetahuan dokter terutama pada penggunaan jangka panjang karena dapat mengakibatkan gejala-gejala seperti mialgia, artralgia dan malaise.
  • Sistem kekebalan tubuh yang menurun menyebabkan pasien lebih rentan terkena penyakit infeksi, terutama cacar dan campak. Cacar dan campak dapat menjadi lebih serius atau bahkan fatal pada pasien anak-anak dan dewasa yang menggunakan obat-obat kortikosteroid. Pasien yang tidak memiliki penyakit ini, harus menghindari paparan dari orang-orang penderita cacar atau campak.
  • Obat-obat sistemik kortikosteroid diketahui ikut keluar bersama air susu ibu (ASI). Karena efek obat ini bisa menggangu pertumbuhan, mengganggu produksi kortikosteroid endogen, atau efek yang tak diinginkan lainnya, ibu menyusui sebaiknya tidak menggunakan betamethasone.
  • Sebaiknya dibatasi menggunakan obat ini pada pasien yang menderita tukak lambung, osteoporosis, diabetes melitus, infeksi jamur sistemik, glaukoma, psikosis, psikoneurosis berat, penderita TBC aktif, herpes zoster, herpes simplex, infeksi virus lain, sindroma Cushing dan penderita dengan gangguan fungsi ginjal.
  • Retensi natrium dengan edema dapat terjadi pada pasien yang menggunakan kortikosteroid, obat ini harus digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan gagal jantung kongestif, hipertensi, atau insufisiensi ginjal.

penggunaan oleh wanita hamil


FDA (badan pengawas obat dan makanan amerika serikat) mengkategorikan betamethasone kedalam kategori C dengan penjelasan sebagai berikut :

Penelitian pada reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin dan tidak ada studi yang memadai dan terkendali dengan baik pada manusia, namun jika potensi keuntungan dapat dijamin, penggunaan obat pada ibu hamil dapat dilakukan meskipun potensi resiko sangat besar.

Betamethasone dengan mudah dapat menembus plasenta. Jika pemberian obat-obat kortikosteroid dalam jangka panjang atau diulang selama kehamilan, resiko penghambatan pertumbuhan intrauterin dapat meningkat. Namun tidak ada bukti terjadinya gangguan pertumbuhan intra uterin selama pengobatan jangka pendek (contohnya pada pengobatan profilaksis untuk neonatal respiratory distress syndrome).

Beberapa gejala supresi adrenal pada janin akibat penggunaan obat ini selama kehamilan, biasanya akan hilang setelah bayi lahir dan tidak begitu bermakna klinis.

interaksi obat


Berikut adalah interaksi betamethasone dengan obat-obat lain jika digunakan secara bersamaan :

  • Aminoglutethimide : menurunkan kadar betamethasone, melalui induksi enzim mikrosomal sehingga mengurangi efek farmakologisnya.
  • Agen Kalium-depleting : jika diberikan bersamaan dengan obat-obat kalium-depleting agen (misalnya, amfoterisin B, diuretik), pengamatan ketat harus dilakukan terhadap kemungkinan terjadinya hipokalemia.
  • Antibiotika makrolida : menurunkan klirens betamethasone sehingga meningkatkan kadar/efek farmakologisnya.
  • Antidiabetik : kortikosteroid dapat meningkatkan konsentrasi glukosa darah, oleh karena itu penyesuaian dosis obat anti diabetes mungkin diperlukan.
  • Isoniazid : Konsentrasi serum isoniazid mungkin akan menurun jika diberikan bersamaan dengan kortikosteroid.
  • Cholestyramine dan efedrin : Cholestyramine meningkatkan klirens kortikosteroid sehingga menurunkan kadar/efek farmakologisnya.
  • Vaksin hidup : betamethasone menurunkan sistem imun tubuh sehingga meningkatkan resiko terjadinya infeksi. Penggunaan vaksin hidup pada pasien yang menggunakan betamethasone sebaiknya dihindari.
  • Anti jamur azole seperti ketoconazole : mengurangi metabolisme kortikosteroid sehingga dapat meningkatkan kadar dan efek farmakologisnya.
  • NSAID : aspirin atau NSAID lainnya meningkatkan resiko efek samping perdarahan pada saluran pencernaan.
  • Penggunaan bersamaan dengan agen antikolinesterase dapat menyebabkan kelemahan yang parah pada pasien myasthenia gravis. Jika memungkinkan, agen antikolinesterase harus ditarik setidaknya 24 jam sebelum memulai terapi kortikosteroid.
  • Pasien yang menggunakan glikosida digitalis mungkin mengalami peningkatan risiko aritmia karena hipokalemia.
  • Estrogen, termasuk kontrasepsi oral, dapat menurunkan metabolisme hepatik kortikosteroid tertentu, sehingga meningkatkan efeknya.
  • Enzim hati reagen (misalnya, barbiturat, fenitoin, carbamazepine, rifampin)
    dapat meningkatkan metabolisme kortikosteroid. Dosis kortikosteroid mungkin perlu ditingkatkan.

Dosis betamethasone


Dosis betamethasone adalah sebagai berikut :

  • Oral, umum 0.5 – 5 mg/hari.
  • Injeksi intramuskular atau injeksi intravena lambat atau infus, 4 – 20 mg, diulangi sampai 4 x dalam 24 jam.
  • Dosis anak melalui injeksi intravena lambat, sampai usia 1 tahun 1 mg. Anak usia 1-5 tahun 2 mg. Anak usia 6-12 tahun 4 mg. Pemberian bisa diulangi sampai 4 x dalam 24 jam disesuaikan dengan respon.

Terkait


Jika informasi ini berguna, bagikan ke teman – teman anda