Everolimus

Everolimus adalah obat yang digunakan untuk mencegah reaksi penolakan transplantasi organ dan untuk mengobati berbagai jenis kanker. Obat Everolimus adalah senyawa turunan dari Sirolimus yang dikenal juga dengan nama rapamycin. Kedua senyawa ini mempunyai khasiat yang sama sebagai penghambat dari apa yang disebut mammalian target of rapamycin (mTOR).

Everolimus adalah Selective immunosuppressive agents. Mekanisme aksi obat ini adalah dengan cara memblokir aktivitas sel darah tertentu dalam sistem kekebalan tubuh yang dapat menyebabkan tubuh menolak organ yang ditransplantasikan. Obat ini biasanya digunakan dalam kombinasi dengan obat-obat lainnya.

Golongan

Harus dengan resep dokter

Indikasi

Kegunaan Everolimus adalah untuk mencegah reaksi penolakan transplantasi organ dan mengobati berbagai jenis penyakit kanker. Berikut adalah beberapa indikasi Everolimus yang telah disetujui :

  • Kanker ginjal stadium lanjut.
  • Subependymal giant cell astrocytoma (SEGA) yang terkait dengan tuberous sclerosis (TS) pada pasien yang tidak cocok untuk intervensi bedah.
  • Tumor neuroendokrin pankreas progresif atau metastatik yang tidak dapat ditangani dengan operasi.
  • Kanker payudara pada wanita pasca menopause dengan hormon reseptor positif tingkat lanjut, tipe HER2-negatif. Biasanya diberikan bersama dengan exemestane. (Baca penjelasan lengkap kanker payudara).
  • Tumor neuroendokrin yang tidak menentu dan tidak terdiferensiasi dengan baik, yang awalnya dari saluran gastrointestinal atau paru-paru.
  • Pencegahan reaksi penolakan organ setelah transplantasi ginjal.
  • Reaksi penolakan organ setelah transplantasi hati.

Kontraindikasi

  • Jangan digunakan untuk pasien yang mempunyai riwayat hipersensitif/alergi obat everolimus, sirolimus, atau turunan rapamycin lainnya. Reaksi hipersensitivitas biasanya menunjukkan gejala seperti, anafilaksis, dyspnea, pembilasan, nyeri dada, atau angioedema (misalnya, pembengkakan saluran nafas atau lidah, dengan atau tanpa gangguan pernafasan).

Efek Samping Everolimus

Berikut adalah beberapa efek samping Everolimus yang umum terjadi :

  • Efek samping yang paling umum adalah stomatitis, infeksi, diare, edema perifer, kelelahan, dan ruam.
  • Efek samping berupa kelainan darah yang paling umum adalah anemia, hiperkolesterolemia, limfopenia, peningkatan kadar aspartat transaminase (AST) dan hiperglikemia puasa.
  • Efek samping yang berpotensi serius, misalnya gagal jantung, gagal napas, dan syok septik.

Perhatian

Hal-hal yang perlu diperhatikan pasien jika menggunakan obat ini adalah sebagai berikut :

  • Obat ini bisa mengganggu sistem kekebalan tubuh sehingga meningkatkan risiko terkena infeksi atau jenis kanker tertentu (misalnya limfoma, kanker kulit). Segera beritahu dokter jika Anda mengalami tanda-tanda infeksi (misalnya sakit tenggorokan yang terus-menerus, menggigil, demam, nyeri atau sering buang air kecil). Segera beritahu dokter Anda jika Anda melihat adanya perubahan pada penampilan atau ukuran tahi lalat, gatal yang tidak biasa, demam, keringat malam, penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, kelenjar getah bening yang membengkak, atau pertumbuhan atau benjolan yang tidak biasa.
  • Everolimus biasanya dikonsumsi dengan cyclosporine (obat lain untuk menekan sistem kekebalan tubuh). Pada dosis cyclosporine tertentu, risiko kerusakan ginjal dapat meningkat.
  • Everolimus dapat meningkatkan risiko pembekuan darah yang dapat menyebabkan kerusakan ginjal yang ditransplantasikan. Biasanya hal ini berpotensi terjadi dalam 30 hari pertama setelah transplantasi. Segera hubungi dokter jika Anda mengalami rasa sakit pada pangkal paha, punggung bawah, samping, atau perut, penurunan buang air kecil, urin gelap atau berdarah, demam, mual, atau muntah.
  • Obat ini telah dikaitkan dengan perkembangan angioedema. Penggunaan bersamaan dengan obat-obat lain yang diketahui menyebabkan angioedema (misalnya, ACE inhibitor) dapat meningkatkan risikonya.
  • Everolimus menyebabkan penekanan sumsum tulang. Hal ini dapat memicu terjadinya penurunan hemoglobin, neutrofil, trombosit, dan limfosit. Sebaiknya lakukan pemantauan jumlah darah pada awal penggunaan obat dan secara berkala.
  • Obat ini menyebabkan edema umum (termasuk edema perifer dan lymphedema) dan akumulasi cairan lokal (misalnya efusi perikardial, efusi pleura, asites).
  • Obat ini dapat menyebabkan kemandulan. Efek pada wanita, misalnya ketidakteraturan menstruasi, amenore sekunder, dan peningkatan hormon luteinizing dan hormon perangsang folikel. Efek pada pria, misalnya Azoospermia dan oligospermia.
  • Tidak diketahui apakah obat ini diekskresikan dalam ASI, namun pada hewan, everolimus dan / atau metabolitnya dengan mudah masuk ke dalam air susu tikus. Ibu menyusui sebaiknya tidak menggunakan obat ini.

Penggunaan Obat Everolimus untuk ibu hamil

FDA (badan pengawas obat dan makanan amerika serikat) mengkategorikan Everolimus kedalam kategori D dengan penjelasan sebagai berikut :

Terbukti beresiko terhadap janin manusia berdasarkan bukti-bukti empiris yang didapatkan dari investigasi, pengalaman marketing maupun  studi terhadap manusia. Namun jika potensi keuntungan bisa dijamin  penggunaan obat pada ibu hamil bisa dilakukan meskipun potensi risiko sangat besar.

Penggunaan Everolimus untuk ibu hamil tidak boleh dilakukan kecuali jika potensi manfaatnya melebihi risiko potensial pada janin. Wanita yang memiliki potensi melahirkan disarankan untuk menggunakan metode kontrasepsi yang efektif saat mereka menggunakan obat ini sampai 8 minggu setelah pengobatan selesai.

Interaksi obat

Di bawah ini adalah interaksi obat Everolimus dengan obat-obat lain jika digunakan secara bersamaan :

  • Bioavailabilitas everolimus meningkat secara signifikan jika diberikan bersama ciclosporin.
  • Rifampicin meningkatkan clearance everolimus hampir 3 kali lipat, menurunkan Cmaks sebesar 58% dan AUC sebesar 63%. Penggunaan bersama dengan rifampicin tidak dianjurkan.
  • Pemberian bersama dengan ACE inhibitor (misalnya captopril) dapat meningkatkan risiko angioedema.
  • Penghambat sedang enzim CYP3A4 dan PgP dapat meningkatkan kadar serum everolimus (misalnya obat antijamur : Fluconazole; macrolide antibiotics; erythromycin, calcium channel blockers : Verapamil, nicardipine, diltiazem; protease inhibitors: Nelfinavir, indinavir, amprenavir).
  • Induser CYP3A4 dapat meningkatkan metabolisme everolimus dan menurunkan kadar serum everolimus [misalnya, St. John’s wort (Hypericum perforatum); anticonvulsants : Carbamazepine, phenobarbital, phenytoin, obat anti-HIV : Efavirenz, nevirapine].
  • Grapefruit (jeruk besar) mempengaruhi aktivitas sitokrom P-450 dan PgP dan karenanya harus dihindari.
  • Obat-obat golongan imunosupresan seperti Everolimus dapat mempengaruhi respons terhadap vaksinasi akibatnya vaksinasi selama pengobatan mungkin kurang efektif. Penggunaan vaksin hidup harus dihindari.

Dosis Everolimus

Obat Everolimus diberikan dengan dosis berikut :

  • Dosis dewasa untuk Kanker Payudara

10 mg 1 x sehari.

  • Dosis dewasa untuk kanker Sel Ginjal

10 mg 1 x sehari.

  • Dosis dewasa untuk Kanker Pankreas

10 mg 1 x sehari.

  • Dosis dewasa untuk Renal Angiomyolipoma

10 mg 1 x sehari.

  • Dosis dewasa untuk Neuroendocrine Carcinoma

10 mg 1 x sehari.

  • Dosis dewasa untuk Tumor Otak / Intrakranial

5 mg / m2 1 x sehari

  • Dosis anak untuk Tumor Otak / Intrakranial

5 mg / m2 1 x sehari

  • Dosis dewasa untuk pencegahan reaksi penolakan transplantasi organ

a. transplantasi ginjal : 0.75 mg 2 x sehari

Obat ini diberikan dalam kombinasi dengan ciclosporin dosis rendah sesegera mungkin setelah transplantasi.

Prednison oral harus diberikan begitu pengobatan oral dapat ditoleransi. Dosis dapat diatur lebih lanjut berdasarkan status klinis pasien dan fungsi organ yang dicangkok.

b. Transplantasi hati : 1 mg 2 x sehari

Mulai terapi minimal 30 hari setelah transplantasi.

Gunakan obat ini dalam kombinasi dengan dosis rendah tacrolimus.

Steroid dapat diberikan dengan memperhatikan status klinis pasien dan fungsi organ yang dicangkok.

Terkait

Dalam pemilihan obat, manfaat yang diperoleh harus dipastikan lebih besar daripada risiko yang mungkin dialami pasien. Oleh karena itu, penggunaan obat Everolimus harus sesuai dengan yang dianjurkan.