Batuk Rejan (pertusis)

Batuk rejan, atau yang dalam dunia medis disebut pertusis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Bordetella pertussis pada saluran pernafasan khususnya pada paru-paru. Penyakit ini menular dengan sangat mudah, namun pemberian vaksin seperti DTaP dan Tdap telah dapat membantu mencegah penularannya secara signifikan.

Penyebab Batuk Rejan

Jika seorang penderita batuk rejan bersin, tertawa, atau batuk, tetesan liur yang mengandung bakteri Bordetella pertussis bisa keluar dan menyebar melalui udara. Jika Anda terpapar bakteri tersebut dan masuk ke saluran pernafasan, bakteri tersebut akan menempel pada bulu-bulu kecil di lapisan paru-paru dan melepaskan racun. Infeksi bakteri akan menyebabkan pembengkakan.

Paru-paru yang membengkak membuat penderita kesulitan bernapas sehingga harus menarik nafas lebih kuat. Tarikan napas yang kuat ini sering seperti bunyi dengkingan (whoop) yang panjang, sehingga dalam bahasa inggris penyakit ini disebut whooping cough. Hal ini menyebabkan batuk kering yang berlangsung lama dengan gejala mirip batuk cold dan flu.

Selain itu, adanya infeksi memicu timbulnya dahak/lendir kental di paru-paru. Untuk mengeluarkan dahak ini, tubuh secara alamiah akan merespons dengan cara batuk. Seperti diketahui batuk adalah mekanisme alami tubuh untuk melindungi diri dari stimulsi luar misalnya infeksi virus, bakteri, atau terjadinya alergi. (Baca juga Batuk : Jenis, Penyebab, dan Pengobatan).

Gejala batuk rejan

Batuk rejan bisa terjadi baik pada bayi, anak-anak, remaja, atau orang dewasa. Gejala biasanya mulai timbul dalam 5-10 hari setelah paparan bakteri. Namun terkadang gejala tidak nampak setelah terpapar 3 minggu. Batuk rejan bisa berlangsung selama 3-6 minggu. Perkembangan gejala batuk rejan ada tiga tahapan, terutama pada bayi dan anak kecil, yaitu :

Baca Juga  Bronchitis

1. Tahap Awal

Gejala awal batuk rejan mirip dengan flu, misalnya pilek, mata merah dan berair, sakit tenggorokan, batuk ringan dan demam. Pada bayi, pada tahap awal batuk kadang tidak muncul. Batuk rejan pada bayi dan anak sering memiliki gejala yang dikenal sebagai apnea. Apnea adalah jeda pola pernapasan anak. Pertusis paling berbahaya bagi bayi. Sekitar 50% kasus batuk rejan pada bayi berusia di bawah 1 tahun memerlukan perawatan lanjutan di rumah sakit.

Gejala pada tahap awal bisa berlangsung selama 1-2 minggu dan biasanya meliputi :

  • Hidung meler
  • Demam ringan
  • Batuk ringan
  • Pada bayi bisa terjadi Apnea (jeda saat bernafas)

2. Tahap stadium lanjut

Setelah 1-2 minggu dan seiring perkembangan penyakit ini, gejala umum pertusis dapat muncul, yaitu meliputi :

  • Batuk cepat diikuti dengan bunyi “whoop” bernada tinggi
  • Muntah selama atau setelah batuk
  • Kelelahan setelah batuk

Pertusis bisa menyebabkan batuk keras dan cepat, berulang-ulang, sampai udara habis dari paru-paru. Bila tidak ada lagi udara di paru-paru, Anda terpaksa menarik napas dengan suara “whoop” keras. Batuk ekstrem ini bisa menyebabkan muntah dan kelelahan.

Batuk pada umumnya menjadi lebih sering dan bertambah buruk seiring waktu (terutama di malam hari). Batuk bisa berlangsung hingga 10 minggu atau lebih. (Ref pertussis : signs and symptoms).

3. Tahap penyembuhan

Pada tahap ini, tubuh penderita mulai membaik. Namun gejala batuk rejan bisa tetap ada atau bahkan lebih keras. Tahap pemulihan ini bisa berlangsung sampai 2 bulan atau lebih, tergantung dari pengobatan yang dilakukan.

Pengobatan batuk rejan

Segera hubungi dokter jika :

  • Batuk lebih dari tiga minggu
  • Batuk yang sangat parah atau semakin parah
  • Kesulitan bernafas
  • Ketika batuk menyebabkan kulit merah kebiruan
  • Atau terjadi tanda-tanda komplikasi serius, seperti kejang atau pneumonia
Baca Juga  Anakonidin OBH (Obat Batuk & Flu)

Perawatan batuk rejan tergantung pada usia penderita dan berapa lama terjadinya infeksi. Anak di bawah usia 6 bulan atau orang dengan gejala yang sangat parah biasanya memerlukan perawatan di rumah sakit.

Jika batuk rejan diketahui sejak dini, obat antibiotik dapat membantu mengurangi infeksi dan gejala lainnya. Antibiotik juga dapat membantu mencegah penyebaran infeksi ke orang lain. Jika batuk rejan telah berlangsung lebih dari tiga minggu biasanya tidak memerlukan perawatan khusus, karena tidak lagi menular dan antibiotik tidak mungkin memberikan hasil yang baik.

Obat batuk over the counter (obat batuk yang bisa didapatkan tanpa resep dokter di apotek atau toko obat berijin), supresan batuk, atau ekspektoran tidak efektif untuk mengobati batuk rejan. Bahkan pada penderita yang masih bayi obat-obat batuk justru lebih banyak bahayanya daripada gunanya. (Baca juga Tips Memilih Obat Batuk Yang tepat).

Sebaiknya Anda beristirahat, minum banyak cairan, dan sering membersihkan lendir dari mulut. Anda bisa meminum obat penghilang rasa sakit seperti paracetamol atau ibuprofen jika menderita demam. (Baca Juga Obat Demam Pilihan Terbaik).

Pencegahan Pertusis

Batuk rejan sangat menular terutama di tahap-tahap awal. Untuk mencegahnya diperlukan usaha-usaha diantaranya :

  • Sebaiknya beristirahat di rumah, hindari keramaian misalnya, sekolah atau tempat kerja sampai 48 jam sejak dimulainya pengobatan antibiotik atau tiga minggu setelah batuk dimulai.
  • Tutupi mulut atau hidung dengan tisu saat batuk dan bersin.
  • Buanglah tisu bekas pada tempat sampah.
  • Cuci tangan secara teratur dengan sabun dan air.
  • Anggota keluarga penderita bila diperlukan juga diberi antibiotik dan dosis vaksin batuk rejan untuk menghentikan infeksi (hubungi dokter untuk hal ini).
Baca Juga  Kenali Penyebab Nyeri Haid Dan Indikasi Adanya Penyakit Lain

Vaksinasi batuk rejan

Ada tiga vaksinasi rutin yang dapat melindungi bayi dan anak-anak dari batuk rejan :

  • Vaksin batuk rejan pada kehamilan – vaksin ini dapat melindungi bayi selama beberapa minggu pertama kehidupan. Waktu terbaik untuk memberikan vaksin ini adalah segera setelah minggu ke 20 kehamilan.
  • Vaksin 5-in-1 – diberikan kepada bayi pada usia 8, 12 dan 16 minggu.
  • Booster pra-sekolah 4-in-1 – diberikan kepada anak-anak berusia 3 tahun dan 4 bulan.

Vaksin ini tidak bisa memberikan perlindungan seumur hidup, namun bisa membantu mencegah terjadinya penyakit ini pada saat bayi dan anak-anak karena penyakit ini jauh lebih berbahaya pada rentang usia ini. Anak yang lebih tua dan orang dewasa tidak divaksinasi secara rutin, kecuali selama kehamilan atau terjadi wabah batuk rejan. (Ref Whooping cough).

Bacaan Terkait :

Komplikasi batuk rejan

Bayi dan anak kecil di bawah enam bulan biasanya paling parah terkena batuk rejan. Penderita pada usia ini berisiko untuk mengalami komplikasi seperti :

  • Dehidrasi
  • Kesulitan bernapas
  • Penurunan berat badan
  • Pneumonia – infeksi paru-paru
  • Kejang
  • Masalah ginjal
  • Kerusakan otak yang disebabkan oleh kekurangan oksigen yang sampai ke otak
  • Kematian – meskipun ini sangat jarang

Remaja dan orang dewasa cenderung kurang mengalami komplikasi akibat batuk rejan, namun terkadang jika batuk sangat kuat mereka mungkin mengalami masalah, seperti mimisan, tulang rusuk yang memar atau hernia.