Quinine

Quinine atau Kina adalah obat malaria yang merupakan alkaloid cinchona dan 4-metanolquinoline. Obat malaria ini bekerja dengan cepat dengan mengganggu fungsi lysosomal atau sintesis asam nukleat Plasmodia spp. Obat malaria ini tidak memiliki aktivitas terhadap bentuk exoerythrocytic.

Quinine digunakan sebagai obat malaria yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum yang resisten terhadap klorokuin. Pada tahun 2006, tidak lagi direkomendasikan oleh WHO (World Health Organization) sebagai pengobatan lini pertama untuk malaria, dan obat ini hanya digunakan bila artemisinin/artesunate tidak tersedia.

Indikasi

Kegunaan Quinine adalah sebagai obat malaria.

Kontra indikasi

  • Kontraindikasi terhadap pasien yang memiliki riwayat hipersensitivitas terhadap quinine, mefloquine atau quinidine.
  • Jangan memberikan obat ini untuk penderita yang sering mengalami kram kaki pada malam hari.
  • Kontraindikasi untuk pasien yang mengalami perpanjangan interval QT, tinnitus atau neuritis optik, miastenia gravis, hemolisis dan yang menderita blackwater fever.
  • quinine dapat menyebabkan gangguan irama jantung, dan harus dihindari pada pasien dengan atrial fibrillation, defek konduksi, atau blok jantung.
  • Kina dapat menyebabkan hemolisis pada penderita defisiensi G6PD, namun risiko ini kecil dan biasanya tetap digunakan bila tidak ada alternatif lain.
  • Tidak boleh digunakan bersamaan dengan obat-obat lain seperti ritonavir, mefloquine, rifampicin, antiaritmia kelas IA dan kelas III, agen penghambat neuromuskular, obat lain yang diketahui menyebabkan perpanjangan QT, dan antasida yang mengandung Al dan / atau Mg.

Efek samping Quinine

Berikut adalah beberapa efek samping Quinine :

  • Quinine dapat menyebabkan reaksi tertentu pada darah dan sistem kardiovaskular yang tidak terduga dan bahkan mengancam jiwa, misalnya jumlah trombosit rendah dan sindrom hemolitik uremik / thrombotic thrombocytopenic purpura (HUS / TTP), sindrom perpanjangan QT dan aritmia jantung serius lainnya termasuk torsades de pointes, blackwater fever, leukopenia, dan neutropenia. Pada beberapa pasien yang peka, yang telah mengalami TTP bisa berkembang menjadi gagal ginjal.
  • Obat malaria ini pada beberapa pasien juga dapat menyebabkan reaksi hipersensitivitas yang serius termasuk syok anafilaksis, urtikaria, ruam kulit yang serius, termasuk sindrom Stevens-Johnson dan nekrolisis epidermal toksik, angioedema, edema wajah, bronkospasme, hepatitis granulomatosa, dan gatal-gatal.
  • Efek samping yang paling umum terjadi adalah Cinchonisme. Cinchonisme adalah sekelompok gejala-gejala akibat pemakaian cinchona seperti sakit kepala, vasodilatasi dan berkeringat, mual, tinnitus, gangguan pendengaran, vertigo atau pusing, penglihatan kabur, dan gangguan dalam persepsi warna. Gejala yang lebih parah misalnya muntah, diare, sakit perut, tuli, kebutaan, dan gangguan pada irama jantung. Cinchonisme jauh lebih jarang terjadi bila obat ini diberikan secara oral, tapi Quinine oral tidak dapat ditoleransi dengan baik karena sangat pahit. Dalam bentuk Quinine ethyl carbonate, obat ini memiliki sifat tidak berasa (hambar) dan tidak berbau, sehingga bisa ditoleransi dengan sangat baik pada penggunaan secara oral, namun merk-merk obat yang mengandung  Quinine ethyl carbonate sangat terbatas. Pemantauan glukosa darah, elektrolit dan pemantauan jantung tidak diperlukan saat diberikan secara oral.

Perhatian

Hal-hal yang perlu diperhatikan pasien selama menggunakan obat malaria ini adalah sebagai berikut :

  • Quinine dapat menyebabkan masalah perdarahan yang serius dan mengancam jiwa. Dalam beberapa kasus, gangguan pada ginjal juga bisa terjadi. Segera beritahukan dokter jika Anda mengalami pendarahan atau memar yang tidak biasa (misalnya, gusi berdarah, hidung berdarah, urin gelap, kotoran berdarah, bintik ungu, coklat, atau merah yang tidak biasa pada kulit).
  • Penggunaan pada pasien dengan defek konduksi jantung, blok jantung atau AF, ibu hamil, dan ibu menyusui harus dilakukan dengan hati-hati.
  • Lakukan pemantauan tanda-tanda kardiotoksisitas, kadar glukosa darah, CBC termasuk jumlah trombosit, LFT, EKG, dan pemeriksaan oftalmologi selama menggunakan Quinine.

Penggunaan Obat Quinine Untuk Ibu Hamil

FDA (badan pengawas obat dan makanan amerika serikat) mengkategorikan Quinine kedalam kategori C dengan penjelasan sebagai berikut :

Penelitian pada reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin dan tidak ada studi yang memadai dan terkendali dengan baik pada manusia, namun jika potensi keuntungan dapat dijamin, penggunaan obat pada ibu hamil dapat dilakukan meskipun potensi resiko sangat besar.

Hasil studi pada hewan tidak selalu bisa dijadikan ukuran keamanan penggunaan obat pada manusia. Oleh karena penelitian secara klinis yang terkendali dengan baik belum dilakukan, penggunaan obat-obat yang mengandung Quinine untuk ibu hamil harus dikonsultasikan dengan dokter.

Interaksi obat

Berikut adalah interaksi obat Quinine jika digunakan bersamaan dengan obat-obat lain :

  • Mengurangi klirens amantadine.
  • Klirens berkurang jika digunakan dengan cimetidine.
  • Meningkatkan efek antikoagulan warfarin dan antikoagulan lainnya.
  • Mengurangi kadar plasma ciclosporin.
  • meningkatkan kadar plasma digoxin.
  • Meningkatkan risiko myopathy dan rhabdomyolysis jika digunakan dengan atorvastatin (obat kolesterol).
  • Bisa meningkatkan efek hipoglikemik antidiabetes oral.
  • Interaksi yang berpotensi fatal : Peningkatan risiko perpanjangan QT dan torsade de pointes jika digunakan dengan mefloquine, agen antiaritmia kelas IA (misalnya quinidine, procainamide, disopyramide) dan agen antiaritmia kelas III (misalnya amiodarone, sotalol, dofetilide) dan obat lain yang diketahui menyebabkan perpanjangan QT ( Misalnya halofantrine, pimozide, thioridazine).
  • Mempotensiasi blokade neuromuskular obat-obat penghambat neuromaskular.
  • Kadar plasma Quinine berkurangnya jika digunakan dengan rifampicin.
  • Kadar plasma meningkat kadar jika digunakan dengan ritonavir.
  • Penyerapan terhambat oleh antasida yang mengandung AT dan / atau Mg.

Dosis Quinine

Quinine diberikan dengan dosis sebagai berikut :

  • Intravena

Dosis dewasa : sebagai diHCl

Dosis awal 20 mg / kg BB sampai maksimal 1.4 g selama 4 jam dengan infus perawatan dimulai setelah 8 jam.

Pemeliharaan : 10 mg / kg BB sampai maksimal 700 mg selama 4 jam, diberikan setiap 8 jam. Tidak boleh diberikan jika pasien menggunakan quinine, quinidine, halofantrine atau mefloquine selama 24 jam sebelumnya.

Dosis anak :

≤5 mg / kg BB/ jam dengan infus IV lambat.

  • Oral

Dosis dewasa : Sebagai sulfat

648 mg diberikan setiap 8 jam selama 7 hari.

Dosis anak : Sebagai sulfat

≥8 thn 10 mg / kg BB diberikan setiap 8 jam selama 7 hari.

Terkait

Dalam pemilihan obat, manfaat yang diperoleh harus dipastikan lebih besar daripada risiko yang mungkin dialami pasien. Oleh karena itu, penggunaan Quinine harus sesuai dengan yang dianjurkan.