Tricker Injection

Tricker Injection adalah obat yang digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit yang disebabkan oleh kelebihan produksi asam lambung, seperti sakit maag dan tukak lambung. Tricker Injection mengandung ranitidine, obat golongan antagonis reseptor histamin H2 (histamin H2-receptor antagonist).

Berikut ini adalah informasi lengkap Tricker Injection yang disertai tautan merk-merk obat lain dengan nama generik yang sama.

pabrik


Meprofarm

golongan


Harus dengan resep dokter

kemasan


Tricker Injection dipasarkan dengan kemasan sebagai berikut :

  • dos 5 ampul @ 2 mL injection

kandungan


tiap kemasan Tricker Injection mengandung zat aktif (nama generik) sebagai berikut :

  • Ranitidine HCl 28 mg setara ranitidine 25 mg / mL

Sekilas tentang zat aktif (nama generik)


Ranitidine adalah obat untuk penyakit-penyakit yang disebabkan oleh kelebihan produksi asam lambung, seperti sakit maag dan tukak lambung. Ranitidine termasuk golongan antagonis reseptor histamin H2 (histamin H2-receptor antagonist) yang bekerja dengan cara menghambat secara kompetitif kerja reseptor histamin H2, yang sangat berperan dalam sekresi asam lambung. Penghambatan kerja reseptor H2 menyebabkan produksi asam lambung menurun baik dalam kondisi istirahat maupun adanya rangsangan oleh makanan, histamin, pentagastrin, kafein dan insulin. Tidak seperti cimetidine, ranitidine tidak memiliki efek pada sistem enzim sitokrom P450.

Indikasi


Kegunaan Tricker Injection (ranitidine) adalah untuk pengobatan kondisi-kondisi berikut :

  • Gastroesophageal reflux disease (GERD) : suatu penyakit yang disebabkan oleh iritasi oleh asam lambung. Penderita biasanya mengalami sensasi terbakar pada area dada dan kerongkongan.
  • Untuk mengobati tukak lambung dan tukak usus duabelas jari.
  • Tricker Injection (ranitidine) digunakan juga untuk menangani erosif esophagitis, meskipun dibandingkan obat-obat golongan penghambat pompa proton (PPI) seperti omeprazole atau lansoprazole, efektivitasnya lebih rendah.
  • Zollinger ellison syndrome : penyakit langka akibat adanya tumor di pankreas atau karena usus duabelas jari melepaskan hormon yang menyebabkan kelebihan sekresi asam lambung. Saat ini, obat-obat penghambat pompa proton (PPI) lebih dipilih untuk tujuan ini.
  • Untuk mengobati penyakit maag, obat-obat antagonis H2 seperti Tricker Injection (ranitidine) lebih banyak dipilih dibandingkan antasida, karena durasi kerjanya lebih lama dan efektivitasnya lebih tinggi.
  • Pencegahan tukak lambung yang disebabkan oleh pemakaian obat-obat NSAID.
  • Mengurangi resiko aspirasi pneumonitis pada pasien sebelum menjalani operasi bedah. Untuk tujuan ini Tricker Injection (ranitidine) lebih efektif dibandingkan obat-obat golongan penghambat pompa proton.
  • Pengobatan dispepsia pada pasien berusia muda dengan antagonis reseptor-H2 dapat diterima, namun perhatian khusus harus dilakukan jika obat diberikan kepada pasien dewasa atau usia lanjut karena obat-obat golongan antagonis reseptor-H2 dapat menutupi gejala kanker lambung.

Kontra indikasi


  • Jangan menggunakan obat ini untuk pasien yang diketahui memiliki riwayat hipersensitif pada ranitidine atau obat golongan antagonis reseptor H2 lainnya.
  • Jangan menggunakan Tricker Injection untuk penderita dengan riwayat porfiria akut.

Efek samping Tricker Injection


Secara umum obat ini bisa ditoleransi dengan baik. Berikut adalah beberapa efek samping Tricker Injection (ranitidine) yang mungkin terjadi :

  • Efek samping Tricker Injection (ranitidine) yang umum terjadi misalnya diare dan gangguan saluran cerna lainnya , konstipasi, nyeri otot, pusing, merasa letih, dan timbul ruam pada kulit.
  • Efek samping obat golongan antagonis reseptor H2 pada saluran kardiovaskular misalnya takikardia, bradikardia, hipotensi, perpanjangan interval QT, telah dilaporkan terjadi. Efek samping ini lebih sering terjadi pada penggunaan secara intravena. Sedangkan penggunaan secara oral maupun infus lebih jarang terjadi.
  • Efek samping hematologi seperti diskrasia darah termasuk agranulositosis, leukopenia, pansitopenia, trombositopenia kadang terjadi pada pemakaian obat ini. Jika pasien mengalami demam, menggigil, sakit tenggorokan, mudah memar, dan gejala lain dari diskrasia darah, pemakaian obat ini harus dihentikan.
  • Efek samping Tricker Injection (ranitidine) pada organ hati secara umum jarang, namun tetap harus diwaspadai. Jika ciri-ciri toksisitas hati terjadi seperti demam, ruam, eosinofilia, dan ciri-ciri hipersensitivitas lainnya terjadi, obat ini harus dihentikan pemakaiannya.
  • Pasien yang pernah mengalami toksisitas hati akibat pemakaian antagonis reseptro H2 lain, harus hati-hati menggunakan obat ini.
  • Reaksi hipersensitivitas akibat pemakaian obat ini sangat jarang, namun jika terjadi bisa menyebabkan syok anafilaksis yang berakibat fatal.
  • Dilaporkan juga kasus ginekomastia dan impotensi, namun jarang terjadi.

Perhatian


Hal-hal yang perlu diperhatikan pasien jika menggunakan Tricker Injection (ranitidine) adalah sebagai berikut :

  • Hentikan pemakaian Tricker Injection (ranitidine) jika terjadi reaksi alergi, seperti ruam, gatal, sakit tenggorokan, demam, arthralgia, pucat, atau tanda-tanda lainnya, karena bisa berakibat yang lebih fatal.
  • Penyesuaian dosis Tricker Injection perlu dilakukan pada pasien dengan klirens kreatinin < 50 mL / menit. Pemantauan fungsi ginjal secara berkala sangat dianjurkan.
  • Hati-hati memberikan Tricker Injection (ranitidine) untuk pasien dengan disfungsi hati karena Tricker Injection (ranitidine) dimetabolisme di hati.
  • Tricker Injection bisa menyebabkan pusing. Jangan mengemudi atau menyalakan mesin selama menggunakan obat ini.
  • Ranitidine ikut keluar bersama air susu ibu (ASI), dengan konsentrasi puncak terlihat 5.5 jam setelah pemberian. Perhatian harus dilakukan ketika Tricker Injection diresepkan untuk wanita menyusui. Beri jarak yang cukup antara penggunaan obat dan menyusui.
  • Efektivitas dan keamanan penggunaan pada anak-anak belum diketahui.

Penggunaan Tricker Injection oleh ibu hamil


FDA (badan pengawas obat dan makanan amerika serikat) mengkategorikan ranitidine kedalam kategori B dengan penjelasan sebagai berikut :

penelitian pada reproduksi hewan tidak menunjukkan resiko pada janin dan tidak ada studi yang memadai dan terkendali dengan baik pada wanita hamil / Penelitian pada hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin, tapi studi yang memadai dan terkendali dengan baik pada wanita hamil tidak menunjukkan resiko pada janin di trimester berapapun.

Karena penelitian klinis pada manusia belum dilakukan sebaiknya penggunaan Tricker Injection (ranitidine) oleh ibu hamil hanya jika sangat dibutuhkan.

Interaksi obat


Berikut adalah interaksi Tricker Injection (ranitidine) dengan obat-obat lain :

  • Obat-obat yang bioavailabilitasnya baik dalam kondisi asam seperti ketoconazole, itraconazole, atazanavir, dan ester ampicillin, penyerapannya akan menurun sehingga mengurangi efektivitasnya.
  • Sedangkan obat-obat yang labil dalam kondisi asam seperti erythromycin, dan digoxin penyerapannya akan meningkat jika digunakan bersama Tricker Injection.
  • Antagonis histamin H2 seperti Tricker Injection menurunkan absorpsi sefpodoksim.
  • Ranitidine memberi efek antagonis terhadap efek tolazolin.

Dosis Tricker Injection


Tricker Injection (ranitidine) diberikan dengan dosis sebagai berikut :

  • Ulkus duodenum aktif : 150 mg 2 x sehari (pagi dan malam) atau 300 mg 1 x sehari setelah makan malam atau sebelum tidur, untuk diberikan selama 4-8 minggu.
  • Ulkus lambung aktif : 150 mg 2 x sehari (pagi dan malam) selama 2 minggu.
  • Pemeliharaan untuk duodenum dan ulkus lambung : 150 mg setiap hari diberikan pada waktu tidur.
  • Kondisi hipersekresi patologis, dewasa : 150 mg 2 x sehari, dapat ditingkatkan sampai 6 g sehari dalam kondisi parah.
  • GERD : 150 mg 2 x sehari.
  • Erosif esofagitis : 150 mg 4 x sehari. Pemeliharaan : 150 mg 2 x sehari.

Dosis lazim ranitidine


Ranitidine diberikan dengan dosis sebagai berikut :

Dosis lazim dewasa untuk tukak usus duabelas jari

Oral : 150 mg 2 x sehari, atau 300 mg 1 x sehari setelah makan malam atau sebelum tidur.

Parenteral : 50 mg, intravena atau intramuskular, setiap 6 – 8 jam. Atau, infus intravena kontinu dapat diberikan dengan rate 6.25 mg / jam selama 24 jam.

Dosis lazim dewasa untuk dispepsia

75 mg oral 1 x sehari 30 – 60 menit sebelum makan. Dosis dapat ditingkatkan sampai 75 mg 2 x sehari. Durasi maksimal terapi : 14 hari.

Dosis lazim dewasa untuk pencegahan kambuh tukak usus duabelas jari

150 mg oral 1 x sehari pada waktu tidur.

Dosis lazim dewasa untuk erosif esofagitis

Oral :

Awal : 150 mg 4 x sehari.

Pemeliharaan : 150 mg 2 x sehari.

Parenteral : 50 mg, intravena atau intramuskular, setiap 6 – 8 jam. Atau, infus intravena kontinu dapat diberikan pada rate 6.25 mg / jam selama 24 jam.

Dosis lazim dewasa untuk stres maag profilaksis

Parenteral : 50 mg, intravena atau intramuskular, setiap 6 – 8 jam. Atau, infus intravena kontinu dapat diberikan pada rate 6.25 mg / jam selama 24 jam. Titrasi untuk mempertahankan pH lambung ≥ 4.

Dosis lazim dewasa untuk zollinger-ellison Syndrome dan hipersekresi fatologis

Oral : 150 mg 2 x sehari. Sesuaikan dosis untuk mengontrol sekresi asam lambung.

Parenteral : 1 mg / kg / jam diberikan sebagai infus intravena kontinu sampai maksimal 2.5 mg / kg / jam.

Dosis lazim dewasa untuk gastroesophageal reflux disease (GERD)

Oral : 150 mg dua x sehari.

Parenteral : 50 mg, intravena atau intramuskular, setiap 6 – 8 jam.

Dosis lazim dewasa untuk maag

Oral : 150 mg 2 x sehari.

Parenteral : 50 mg, intravena atau intramuskular, setiap 6 – 8 jam.

Dosis pemeliharaan dewasa untuk maag

150 mg oral 1 x sehari pada waktu tidur.

Dosis anak

Tukak lambung : 2-4 mg / kg BB 2 x sehari, maksimal 300 mg sehari.

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) :150 mg 2 x sehari atau 300 mg sebelum tidur malam selama sampai 8 minggu, atau bila perlu sampai 12 minggu (sedang sampai berat, 600 mg sehari dalam 2-4 dosis terbagi selama 12 minggu). Pengobatan jangka panjang GERD, 150 mg 2 x sehari.

Sindrom Zollinger-Ellison : 150 mg 3 x sehari; dosis sampai 6 g sehari dalam dosis terbagi.

Dosis neonatus

2 mg/kg BB, 3 kali sehari. Maksimal 3 mg/kg BB, 3 x sehari.

Bayi usia 1-6 bulan

1 mg / kg BB 3 x sehari. Maksimal 3 mg / kg BB, 3 x sehari

Bayi usia 6 bulan-12 tahun

2-4 mg / kg BB. Maksimal : 150 mg dibagi 2 x sehari.

Terkait